Tampilkan postingan dengan label Pasca Pengobatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pasca Pengobatan. Tampilkan semua postingan

Rasa Terbakar Pascaoperasi Amandel

NEW YORK - Penggunaan peralatan pembakaran (cautery) selama operasi tonsil atau lebih dikenal operasi amandel, dapat mengakibatkan komplikasi pascaoperasi yaitu rasa terbakar di sekitar bibir dan mulut.

Menurut Dr Albert H Park dari University of Utah School of Medicine, Salt Lake, Amerika Serikat, operasi pengangkatan dari tonsil bersama kelenjar adenoid yang berdekatan tetap menjadi salah satu operasi yang paling umum di Amerika serikat.

Penelitian dilakukan terhadap anak-anak dan remaja itu mengungkap, tujuh pasien yang mengalami rasa mulut terbakar dari 4.327 operasi yang dilakukan di Primary Children's Medical Center (PCMC).

Sementara itu, dari 298 survei yang dilakukan, sebanyak 101 dijawab dengan lengkap. Sekitar 61 responden melaporkan memiliki pasien yang merasakan rasa terbakar di sekitar mulutnya.

Perkiraan secara kasar yaitu sekitar 10 persen pasien mengalami rasa terbakar yang hebat sehingga membutuhkan perawatan tambahan. Diperkirakan, sebagian besar rasa terbakar tersebut timbul ketika proses pengangkatan tonsil dengan peralatan yang digunakan dengan membakar di sekitar area.
(sindo//tty)

4 Trik Jitu Pulih dari Persalinan

PULIH dari persalinan memang membutuhkan waktu. Soal lama atau sebentarnya, semua tergantung dari kondisi si ibu. Sebab, sama seperti ketika hamil, perubahan fisik dan psikologi ibu hamil akan berlanjut hingga usai persalinan.

Misalnya berat badan yang tidak langsung susut, sakit ketika menyusui, selalu ingin buang air kecil (BAK) dan seakan-akan ingin selalu buang air besar (BAB) karena ada bekas luka sobekan saat persalinan. Belum lagi sakit bekas jahitan operasi cesar hingga mood yang tidak terkontrol.

Menurut dr Sofani Munzila SpOG, dari YPR Hospital ada beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk memulihkan kondisi si ibu pasca persalinan. Apa saja?

1. Gendonglah bayi

Untuk bisa segera pulih, sebenarnya tidak sulit. Apalagi bagi yang menjalankan persalinan normal. Dalam hitungan 1x24 jam, secara fisik, ibu sudah bisa menjalankan aktivitas, walaupun bukan yang berat. Biasanya usai persalinan normal, ibu akan merasa letih luar biasa. Apalagi jika proses persalinannya lama.

Lantas, apa yang harus dilakukan? Menurut dr Sofani Munzila, SpOG, istirahat cukup bisa memulihkan keletihan pascapersalinan. Istirahat bukan berarti tidak boleh bergerak sama sekali. Justru, agar cepat sembuh, ibu disarankan untuk bergerak. Minimal, menggerakkan badan di tempat tidur, turun dari tempat tidur, berjalan di kamar. Bahkan menyusui, menggendong, serta memakaikan baju si kecil pun bisa menjadi terapi ringan yang langsung bisa dilakukan.

Berbeda dengan ibu yang melahirkan secara cesar. Umumnya, sehari setelah operasi cesar, ibu tidak boleh turun ranjang. Bahkan ada juga yang harus opname selama 3-4 hari di rumah sakit. Rasa sakit dan gatal pun akan dialami. Ini wajar, sebagai reaksi normal pada anestesi dan pembedahan.

Biasanya dalam waktu enam minggu, ibu sudah bisa menjalankan aktivitas normal. Walau rasa nyeri terkadang masih dirasakan hingga enam bulan, namun bisa diatasi sendiri. Berdiam diri malah akan memperlama proses pemulihan.

2. Kebersihan vagina percepat pemulihan

Menjaga kebersihan vagina ternyata dapat mempercepat pemulihan. Begitu pula dengan merawat bekas jahitan operasi.

Untuk yang melahirkan normal, upayakan agar daerah sekitar vagina selalu kering dan bersih. Gantilah pembalut khusus usai persalinan sesering mungkin. Biarkan luka jahitan pada vagina terkena udara terbuka beberapa saat setiap hari. Penyembuhan biasanya memerlukan waktu seminggu.

Sedangkan yang menjalani cesar, basuhlah luka dengan air hangat setiap kali mandi. Bila sudah kering, bersihkan dengan sabun antiseptik. Di pasaran juga tersedia plester khusus untuk menutup luka bekas operasi.

3. Perbanyak konsumsi protein

Ada anggapan yang menyebutkan bahwa setelah melahirkan, tidak boleh mengonsumsi protein yang banyak terdapat pada ikan, telur atau daging. Itu mitos keliru. Proses pemulihan usai persalinan harus didukung oleh nutrisi lengkap.

Jika selama hamil, ibu sangat memperhatikan kandungan gizinya, maka setelah persalinan pun tetap musti memperhatikan nutrisinya. Karena ibu masih menyusui dan membutuhkan makanan sarat protein.

Protein dapat membantu penyembuhan luka jahitan. Protein banyak terkandung di dalam ikan. Vitamin C dan B kompleks juga jangan tertinggal, karena akan membantu daya tahan ibu usai persalinan. Perbanyak makan sayuran hijau, seperti bayam dan kacang-kacangan.

Upayakan juga mengonsumsi makanan kaya serat, untuk membantu BAB. Ini tak kalah pentingnya karena BAB yang keras akan membuat bekas jahitan sulit pulih akibat acap mengejan.
(Mom& Kiddie//tty)

Pascaoperasi Kanker Usus Besar, Perlu Perawatan Lanjutan

SETIAP pasien kanker usus besar yang telah menjalani operasi hendaknya meneruskan perawatan lanjutan, guna memastikan kanker telah hilang.

Nyatanya, banyak pasien kanker usus besar yang lalai meneruskan perawatan lanjutan pascaoperasi. Setidaknya itulah kesimpulan hasil studi yang dilakukan di Amerika, baru-baru ini. Banyak pasien kanker usus besar yang pascatindakan bedah tidak mendapat skrining sesuai panduan yang direkomendasikan.

Penelitian yang dilakukan tim peneliti dari University Hospitals Case Medical Center di Cleveland tersebut melibatkan partisipan sebanyak 4.426 pasien kanker usus stadium dini yang masih bisa disembuhkan dengan pembedahan atau operasi.
Dari sejumlah partisipan yang telah menjalani operasi kanker tersebut, tercatat hanya sekitar 40 persen yang mendapat paket perawatan lanjutan yang direkomendasikan seperti pemeriksaan rutin oleh dokter, tes darah, dan prosedur colonoscopy dalam tiga tahun pascabedah kanker.

Dalam hal pemeriksaan dokter, memang hampir semua partisipan menjalaninya. Demikian halnya partisipan yang menjalani colonoscopy mencapai 75 persen. Namun, ternyata banyak di antara mereka yang tidak mendapat tes darah yang sebenarnya penting sebagai indikator kemunculan kembali kanker usus besar.

"Tidak jelas apakah hal itu terjadi karena dokter yang tidak menawarkan tes ataukah memang si pasien yang tidak berusaha," kata pimpinan penelitian, Dr Gregory Cooper. Dia menduga, kemungkinan perawatan lanjutan hanya dilakukan dokter umum, bukan spesialis atau seseorang yang tidak mengerti panduan perawatan pascaoperasi.

"Kalau saya lebih cenderung menilai ini kesalahan pihak rumah sakit atau penyedia layanan kesehatannya," kata Cooper yang merupakan seorang gasteroenterologis.

Dalam penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal kanker edisi terbaru tersebut, Cooper dan timnya menggunakan data kasus kanker dari kantor pemerintah federal Amerika Serikat, termasuk catatan kesehatan pasien (medical record) untuk meninjau apakah sekiranya panduan pascaoperasi tersebut diikuti. Mereka berfokus pada pasien berusia 66 tahun atau lebih, dengan kasus kanker stadium dini hingga menengah yang masih dapat diatasi dengan pembedahan.

Data pasien yang diteliti adalah dalam kurun waktu tiga tahun, dimulai sejak enam bulan pascaoperasi. Saat studi dimulai pada tahun 2000, panduan minimum mewajibkan setidaknya kunjungan dokter dua kali per tahun, dua kali tes darah per tahun selama dua tahun, dan minimal sekali colonoscopy dalam tiga tahun. "Colonoscopy terutama dianjurkan pada tahun pertama pascaoperasi," ujarnya.

Secara keseluruhan, sekitar 60 persen pasien tidak mendapat perawatan sesuai panduan tersebut. Akan tetapi, mereka yang menjalani perawatan lengkap, lebih dari separuhnya juga melakukan perawatan medis tambahan seperti CT scan dan PET scan yang tidak diwajibkan dalam perawatan rutin. Scan ini sejatinya dilakukan jika ada tanda atau gejala kekambuhan. Namun, peneliti menduga, mereka menjalaninya sebagai perawatan rutin.

Penelitian ini juga menyimpulkan temuan lainnya, yakni tingkat skrining yang rendah pada kelompok usia lebih tua, ras Amerika-Afrika dan pasien dengan berbagai masalah kesehatan lainnya.

"Cukup memprihatinkan. Saya tidak terkejut dengan temuan ini," ujar Dr Len Lichtenfeld, kepala deputi kesehatan di American Cancer Society, yang turut mendanai penelitian tersebut.

Tahun ini, sekitar 149.000 orang Amerika diperkirakan terdiagnosis kanker usus (kolorektal). Pasien yang bertahan setelah lima tahun terdiagnosis angkanya cukup beragam. Ada yang hingga 90 persen (pada pasien kanker yang belum menyebar), namun bisa juga hanya 10 persen, yakni pada pasien kanker stadium lanjut.

Di negara Barat, kanker usus besar (kolon) dan rektum (kanker kolorektal) konon menempati peringkat ke-2 untuk kategori jenis kanker tersering terjadi, sekaligus menjadi kanker penyebab kematian nomor dua. Angka kejadian kanker kolorektal biasanya mulai meningkat pada usia 40 tahun, dan puncaknya pada usia 60-75 tahun.

Seperti kanker pada umumnya, kanker usus besar juga "misterius". Artinya, penyebabnya beragam dan mungkin tidak sama antar pasien. Spesialis bedah kanker RS Dharmais Jakarta dr Adil Pasaribu SpBKBD, mengungkapkan, terdapat tiga kelompok besar penyebab, yakni genetik atau herediter murni (10 persen), familiel (20 persen), dan faktor campuran/sporadis (70 persen).

"Yang terbanyak menjadi kanker adalah interaksi antara genetik dan faktor lingkungan sebagai pemicu," tandasnya.
(sindo//tty)