Tampilkan postingan dengan label Kanker Payudara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kanker Payudara. Tampilkan semua postingan

Kanker Payudara : Disebakan Oleh Tahi Kuping Lengket dan Bau


Anda yang jarang membersihkan tahi kuping sebaiknya berhati-hati. Kombinasi tahi kuping yang basah dan berbau ternyata ada hubungannya dengan mutasi dalam gen kanker payudara jenis ABCC11. Sebuah penelitian di Jepang membuktikannya.

Hasil penelitian yang dilaporkan dalam Federation of American Societies for Experimental Biology (FASEB) Journal yangdikutip dari health24, menyebutkan bahwa mutasi gen ABCC11 pada penyakit kanker payudara terjadi pula pada tahi kuping dengan tipe basah dan lengket.

"Kami menemukan sebuah mutasi pada gen ABCC11, yang setelah diteliti ternyata berasal dari tipe tahi kuping yang basah dan lengket," ungkap Dr. Toshihisa Ishikawa dari Institut Teknologi Tokyo, Jepang.

Mengapa dan bagaimana hal tersebut dapat terjadi masih belum diketahui.

Tahi kuping terbentuk dari keringat yang dihasilkan oleh kelenjar keringat manusia. Tahi kuping seseorang ternyata mempengaruhi bau badannya. Terdapat dua tipe tahi kuping manusia, yaitu kering dan basah. Orang Asia umumnya memiliki tahi kuping kering, sedangkan orang Eropa dan Afrika umumnya basah dan agak lengket.

Studi yang dilakukan oleh Ishikawa dan mitranya menunjukkan bahwa mutasi gen 538G>A mempengaruhi beberapa fungsi protein ABCC11, yang selanjutnya mempengaruhi kerja dari kelenjar keringat. Kemungkinan hal inilah yang menyebabkan tahi kuping yang basah dan agak lengket menjadi salah satu sumber kanker payudara.

Meskipun masalah tahi kuping kedengaran sepele, tapi penelitian ini tidak main-main. Karena terdapat bukti-bukti klinik yang menunjukkan bahwa formasi G dalam gen ABCC11 sangat dekat hubungannya dengan tahi kuping tipe basah, lengket dan berbau.

Untuk ke depannya, tipe-tipe mutasi genetik pada gen ABCC11 dapat menjadi acuan untuk mendiagnosa tahi kuping dengan tipe berbahaya (basah, lengket, bau) yang saat ini menjadi sebuah penyakit yang menakutkan di negeri sakura tersebut.

Untuk mendeteksi tipe gen dengan cepat, para ahli mengembangkan metode yang memungkinkan analisis mutasi gen ABCC11 dalam 30 menit. Metode tersebut akan tersedia dalam bentuk alat khusus yang dapat menganalisis hubungan genetik antara tahi kuping, bau badan yang kurang enak, dan risiko kanker payudara.

Vaksin Kanker Payudara, Harapan Atasi Kanker yang 'Bandel'

TERUS meningkatnya angka kejadian dan kematian akibat kanker membuat dunia kedokteran tergerak untuk menemukan vaksin pencegah.

Setelah vaksin kanker serviks, diharapkan kanker payudara segera menyusul. Badan kesehatan dunia (WHO) memprediksi terjadinya peningkatan angka kejadian kanker dari 11 juta menjadi 27 juta, dan kematian akibat kanker dari 7 juta menjadi 17 juta. Sehingga, pada 2030 diperkirakan sekitar 75 juta orang hidup dengan kanker.

Di tahun-tahun mendatang, kanker juga disinyalir menjadi problem kesehatan serius, khususnya bagi negara-negara berkembang seperti Indonesia, dengan peningkatan angka kejadian hingga 70 persen. Sehingga pada saatnya nanti, bila tidak dilakukan pencegahan dan deteksi dini yang baik sejak saat ini, penyakit kanker akan menjadi beban sangat besar bagi perekonomian baik keluarga maupun negara.

Keprihatinan tersebut membuat kalangan ilmuwan medis dari seluruh dunia tergerak menemukan vaksin pencegah penyakit mematikan ini. Saat ini, kanker yang dapat dicegah dengan vaksinasi baru sebatas kanker rahim, terutama kanker leher rahim (serviks).

Nah, belum lama ini, sejumlah peneliti juga mendesain sebuah eksperimen di laboratorium untuk menemukan formula paling tepat dalam membuat vaksin kanker payudara. Vaksin tersebut bekerja dengan mengirimkan sejenis gen "pembunuh kanker" ke dalam sel tubuh, yang lantas akan memproduksi protein kekebalan tubuh yang akan mengenyahkan sel-sel kanker.

"Dalam pikiran kami, hal ini merupakan terobosan yang cukup signifikan. Pasalnya, kita cukup memasukkan gen pembunuh kanker itu ke dalam sel tubuh kita, lalu vaksin akan diproduksi dengan sendirinya oleh sel tubuh kita," ujar ahli imunologi dan mikrobiologi dari Karmanos Cancer Center, Wayne State University, di Detroit, Wei-Zen Wei.

Dalam penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal penelitian Kanker tersebut, Wei dan timnya menggunakan tikus sebagai hewan percobaan untuk. Nah, vaksin buatan mereka itu berhasil mengeliminasi tumor pada tikus pengidap kanker payudara jenis HER2 Positif (HER2+).

Pada tingkat sel, reseptor HER2 mendorong pertumbuhan sel-sel secara normal. HER2 yang merupakan sejenis protein ini juga ditemukan dalam jumlah sedikit dalam sel payudara. Akan tetapi, sel payudara HER2 positif memiliki banyak reseptor sehingga dapat memicu pertumbuhan sel secara berlebih dan abnormal seperti halnya sel-sel kanker yang ganas.
Itulah sebabnya, pemeriksaan HER2 biasanya dianjurkan sebagai penanda ada tidaknya sel tumor atau kanker payudara. Pada sejumlah kasus kanker usus dan kanker indung telur, kadar HER2 juga ditemukan berlebihan.

Kanker payudara tipe HER2+ berkisar 20-30 persen dari keseluruhan penyakit kanker payudara dan acapkali lebih agresif ketimbang tipe kanker lainnya. Pasien pengidap kanker tipe ini sering kurang responsive terhadap terapi hormonal, dan selama pengobatan kerap menjadi resisten. Bahkan, dengan obat-obatan antikanker seperti halnya Herceptin, yang didesain untuk memecah reseptor dan menghancurkannya, terkadang hanya efektif untuk periode yang singkat. Selepas itu, pasien biasanya mengalami resistensi dan obat pun tak lagi mempan.

"Penelitian ini sangat berguna. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut akan kemungkinan vaksin ini dapat diterapkan pada manusia," imbuh direktur bidang keilmuan American Cancer Society, Dr Bill Chambers.
(sindo//tty)

Perpanjang Harapan Hidup Penderita Kanker Payudara

SATU di antara delapan wanita berisiko terkena kanker payudara. Kendati terjadi penurunan angka kematian, angka kejadiannya terus meningkat, termasuk di Indonesia.

Kenaikan angka kejadian kanker tersebut karena makin banyaknya pasien yang terdeteksi kanker pembunuh nomor dua setelah kanker paru ini. Secara keseluruhan, hampir satu juta wanita mengalami kanker payudara setiap tahunnya. Di Amerika Serikat saja, jumlah pasien yang terdiagnosis kanker payudara tahun lalu diperkirakan mencapai 250.000. Sebanyak 40.000 di antaranya meninggal dunia. "Di Indonesia, kurva angka kejadian meningkat pada usia di atas 30 tahun,dan yang paling tinggi pada kelompok usia 45-66 tahun," kata staf Tim Kerja Kanker Payudara RS Kanker Dharmais (RSKD) Jakarta dr Samuel J Haryono SpB(K) Onk.

Sekalipun 5 persen-10 persen kanker payudara disebabkan faktor yang diwariskan, tapi faktor lain seperti gaya hidup yang buruk diduga turut berperan. Itulah sebabnya, kesadaran deteksi dini tak pernah bosan didengungkan. Hal ini penting untuk mengetahui adanya pertumbuhan sel kanker ataupun mencegah penyebaran ke jaringan lainnya. Jika ternyata terdeteksi terkena kanker, minimal dokter dapat melakukan upaya yang bertujuan memperpanjang harapan hidup pasien.

Sebuah studi terbaru yang dilakukan peneliti dari Universitas Otagodi Selandia Baru melaporkan, skrining atau deteksi dini kanker payudara pada wanita lanjut usia dapat menyelamatkan hidup 34 pasien per tahun. Survei yang dilakukan sekolah kedokteran Dunedin juga me-nyebutkan bahwa skrining yang dilakukan pada wanita usia 50-69 tahun terbukti mengurangi angka kematian akibat kanker payudara sebanyak 6 persen-8 persen atau sekitar 20-34 pasien. Dengan melakukan skrining pada usia lebih muda (mulai 45 tahun) juga diperkirakan mencegah 1-7 kematian pasien. "Penelitian ini masih dalam skala kecil. Untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam deteksi dini, terutama pada wanita lanjut usia, diperlukan metode skrining yang lebih baik dan mudah," saran staf penulis studi, Prof Brian Cox.

Sementara itu di RSKD sebagai pusat rujukan kanker di Indonesia, angka pasien kanker payudara terbilang paling tinggi dan selalu berfluktuasi dengan "rekan sejawatnya", yaitu kanker leher rahim. Pada tahun 2000, pasien yang didiagnosis terkena kanker stadium 3 atau 4 berkisar 60 persen - 70 persen, dan terus meningkat pada tahun-tahun berikutnya. "Rata-rata pasien yang datang sudah stadium 2B ke atas. Ini bukti masih rendahnya kesadaran check-up payudara," ucap spesialis bedah onkologi RSKD, dr Sutjipto SpB Onk.

Hal yang patut disayangkan lagi, di antara pasien yang terdeteksi banyak yang tidak memeriksakan kembali. Selain faktor finansial dan kesibukan kerja, ketakutan akan serangkaian terapi yang harus dijalani seperti biopsi, operasi, kemoterapi dan radiasi, merupakan salah satu penyebab keengganan penderita untuk melanjutkan pengobatan di rumah sakit.

Padahal, teknologi pengobatan kanker saat ini sudah canggih dan kemungkinan sembuh selalu ada jika pengobatan dilakukan dengan benar dan ditemukan dalam stadium awal. Terapi kanker payudara dapat dilakukan secara lokal maupun sistemik. Terapi lokal yang meliputi pembedahan dan radiasi digunakan untuk mengangkat, menghancurkan atau mengontrol sel kanker pada area tertentu seperti pada payudara. Adapun terapi sistemik seperti kemoterapi dan terapi hormon berfungsi menghancurkan sel-sel kanker di seluruh tubuh.

Dalam konferensi tahunan ke-43 American Society of Clinical Oncology (ASCO) yang berlangsung tahun lalu di Chicago, para ahli juga menyoroti terapi baru kanker dengan obat-obatan bertarget (tareted cancer therapy drugs) dan efektivitasnya terhadap beberapa jenis penyakit. Secara umum, obat-obatan ini difungsikan menyerang atau mengikat molekul tertentu yang menjadi pemicu pertumbuhan tumor (kanker) dan mengontrol aliran darah.
(sindo//tty)