Tampilkan postingan dengan label Kanker. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kanker. Tampilkan semua postingan

Mitos dalam Terapi Alternatif untuk Kanker

Di dunia terapi alternatif dan komplementer banyak dibumbui oleh mitos-mitos yang belum jelas keabsahannya termasuk terapi untuk mengatasi penyakit kanker dan hal ini bisa menyesatkan karena hal ini telah populer sebagai pengganti terapi medis. Sementara itu, berbagai jenis khasiat terapi alternatif seperti diet, nutrisi dan suplemen masih belum dapat dibuktikan secara ilmiah.

Ahli bedah onkologi dari Rumah Sakit Kanker Dharmais, Walta Gautama di kutip dari kompas menyatakan, terapi yang aman adalah terapi yang memiliki dasar ilmiah dan dapat dibuktikan melalui uji klinis pada manusia. Selama ini beredar mitos seputar diet, nutrisi atau suplemen sebagai terapi alternatif dan komplementer untuk kanker. Vitamin A, misalnya sering dianggap dapat meningkatkan daya tahan tubuh pasien kanker. Faktanya, penelitian membuktikan pemberian vitamin A dosis tinggi dan berkepanjangan meningkatkan perkembangan kanker prostat dan angka kejadian kanker paru pada kelompok risiko tinggi.

Sementara vitamin C dianggap antioksidan yang dapat mencegah kanker, dan perlu diminum per oral dosis tinggi agar lebih banyak diserap tubuh. Kenyataannya, vitamin C per oral gagal memperbaiki secara klinis gejala kanker, tidak ada hasil penelitian yang membuktikan vitamin itu dapat menyembuhkan kanker. Vitamin itu justru dapat mengganggu efek radiasi dan kemoterapi terhadap sel kanker.

Makrobiotik atau diet hampir vegetarian juga dianggap dapat mencegah kanker. Diet ini dilakukan dengan memperbanyak konsumsi sayuran dan biji-bijian, menghindari daging, telur dan susu. Penelitian menunjukkan hubungan antara diet makrobiotik dengan penurunan risiko kanker, tetapi peran makrobiotik untuk pengobatan kanker belum cukup diteliti.

Diet itu juga dapat menurunkan kadar hormon estrogen dalam sirkulasi darah perempuan sehingga menurunkan risiko kanker yang tergantung hormon. ”Beberapa komponen makrobiotik dapat mengubah metabolisme beberapa obat. Bawang putih, misalnya, mengganggu metabolisme obat kemoterapi, anti jamur, anti darah tinggi. Sedangkan ginkgo biloba: mengganggu metabolisme obat kemoterapi, obat diabetes,” kata Walta.

Ia menambahkan, mitos seputar tanaman herbal yang populer di Indonesia seperti mahkota dewa, buah merah, buah mengkudu, dan tapak dara untuk terapi alternatif dan komplementer bagi pasien kanker juga sering menyesatkan. Dalam jurnal internasional onkologi bahkan disebutkan, efek antioksidan buah mahkota dewa itu dapat mengganggu efek kemoterapi dan radiasi.

Sementara diet tinggi serat dapat mencegah kanker saluran cerna misalnya kanker lambung, kanker usus besar, dan kanker yang tergantung hormon seperti kanker payudara dan kanker prostat. Hasil penelitian tentang efek protektif buah dan sayuran terhadap kanker masih simpang siur. ”Diet yang terlalu ekstrim justru memperburuk survival pasien kanker,” ujarnya.


Jika anda sedang bergelut dengan hal ini , akan lebih baik jika sedikit membuka hati dan pikiran untuk mengkaji ulang terapi yang sedang dijalani setidaknya mengkonfirmasi kepada pihak yang lebih berkompeten yaitu pihak medis. Saya pikir unsur sugesti sangat berperan atas apa yang terjadi pada fenomena ini.

Obesitas Berisiko Kanker

TAK banyak wanita yang mengetahui bahwa obesitas dapat meningkatkan risiko untuk terkena berbagai macam kanker. Setidaknya itulah kesimpulan studi yang dipublikasikan dalam sebuah jurnal kebidanan dan kandungan, baru-baru ini.

"Banyak wanita yang kurang mengetahui informasi perihal kelebihan berat badan dan risikonya.Terkait kanker, hal yang mengkhawatirkan adalah keganasan kandungan dan kanker endometrium (selaput rahim)," ujar salah seorang tim peneliti studi tersebut, Dr Pamela T Soliman, dari Anderson Cancer Center di Houston. "Kita harus mengedukasi pasien dengan lebih baik lagi," sebutnya.

Soliman dan timnya menyimpulkan, wanita yang kelebihan berat badan (overweight) berpotensi empat kali lebih besar terkena kanker di saluran rahim, sementara wanita obesitas berisiko enam kali lipat. Mereka juga berisiko tinggi terkena kanker payudara dan kanker usus.

Kelebihan berat badan rupanya juga dapat meningkatkan risiko kematian pada pasien kanker, terutama kanker endometrium. Pasien wanita pengidap kanker yang kelebihan berat badan akan berisiko 6,25 kali lebih tinggi untuk meninggal akibat penyakitnya itu.

Dalam studi tersebut, Soliman dan timnya melibatkan partisipan sebanyak 1.545 wanita. Sebanyak 28 persen partisipan memiliki berat badan ideal, 24 persen kelebihan berat badan (overweight), dan 45 persen obesitas. Mayoritas partisipan (91 persen) juga merupakan peserta asuransi kesehatan. Setelah dilakukan studi, hanya 42 persen partisipan yang tahu bahwa obesitas meningkatkan risiko kanker endometrium, dan 53 persen yang paham bahwa kanker usus dapat terkait obesitas. Sementara partisipan yang sadar bahwa berat badan berlebih dapat meningkatkan risiko kanker payudara hanya sekitar 54 persen.

Para wanita yang terlibat dalam penelitian tersebut berasal dari kalangan terdidik lulusan universitas, bahkan program spesialis, mereka juga ikut asuransi. "Bahkan, pasien yang secara rutin kontrol ke dokter juga tidak sadar bahwa obesitas dapat meningkatkan risiko mereka untuk terkena beragam kanker," katanya prihatin.
(sindo//tty)

Waspada Kanker Serviks, Kombinasi Papsmear & Vaksin

RUTIN papsmear tidak menjamin seorang wanita terbebas sepenuhnya dari kanker serviks. Lengkapi dengan vaksinasi sebagai upaya pencegahan primer dari kanker tersebut.

Sebagai seorang dokter kandungan, Irene tentu memiliki tingkat kewaspadaan lebih baik terhadap penyakit. Namun, kenyataan bahwa HPV (human pappiloma virus) penyebab kanker serviks menginfeksi rahimnya tidak pernah terpikir sebelumnya. "Setahun setelah menikah, saya rutin papsmear setahun sekali, dan saya juga tidak ada riwayat keluarga penderita kanker serviks," tuturnya.

Dokter cantik yang praktik di Medika Plaza Jakarta itu mengisahkan awalnya merasakan ketidaknyamanan pada sistem reproduksinya, yakni ketika durasi menstruasinya berubah dari dua hari menjadi seminggu. "Sejak awal saya menstruasi terbiasa dua hari. Namun, enam bulan setelah terkena demam berdarah, tepatnya pada Februari 2001, mens saya berubah jadi seminggu. Pernah juga baru selesai menstruasi, beberapa hari kemudian kok sudah mens lagi," kenangnya.

Kejanggalan itu awalnya disangka sebagai gangguan hormonal. Namun, hasil tes menyatakan tak ada masalah. Demikian halnya papsmear dan kuret rahim yang dijalaninya tak menemukan indikasi penyakit. "Semua tes menyatakan saya sehat, tapi saya merasa tidak nyaman karena mens saya makin tidak karuan, darah yang keluar kadang banyak sekali disertai sakit di perut bagian bawah dan sekitar pinggang," paparnya.

Ketidaknyamanan itu kemudian mendorong Irene untuk melakukan operasi pengangkatan rahim. "Saya pikir, buat apa nyimpen penyakit. Diangkat sajalah," katanya. Akhirnya pada Juli 2001, pada usianya yang ke-43, rahim ibu empat anak ini diangkat. Pascaoperasi, rahim Irene yang sebesar telur ayam dan tampak sehat tanpa adanya pembengkakan itu diperiksa di laboratorium patologi. Hasilnya, ditemukan infeksi HPV di area rahim dan leher rahim (serviks).

"Tapi letaknya tidak di permukaan serviks, melainkan tersembunyi di area dalam, di antara lekukan serviks dan rahim," kata Irene yang kemudian melakukan vaksinasi HPV pada 2007 silam. "Saya bersyukur karena penyakit ini belum menyebar, tapi HPV tipe lain juga bisa menyerang lagi kapan pun. Makanya saya putuskan untuk divaksin," kata wanita berkulit putih itu.

Irene termasuk wanita yang beruntung karena segera menyadari adanya ketidakberesan pada tubuhnya dan segera bertindak mengatasinya. Namun, berapa banyak wanita di dunia ini yang tidak menyadari kehadiran HPV dan hidupnya berakhir di ujung penyakit bernama kanker serviks? Menurut WHO, tiap tahun di seluruh dunia 490.000 perempuan didiagnosis menderita kanker serviks, dan 240.000 di antaranya meninggal dunia. Angka ini setara dengan satu kematian tiap dua menit.

"Di Indonesia sendiri, setiap hari ditemukan 41 kasus baru dengan 20 kematian per hari. Sekitar 80 persen kasus kanker serviks juga terjadi di negara berkembang, termasuk Indonesia," sebut spesialis kebidanan dan kandungan dari FKUI/RSCM Jakarta, Dr dr Dwiana Ocviyanti SpOG (K), yang akrab disapa Ovy.

Separuh dari wanita yang terdiagnosis kanker serviks berusia antara 35-55 tahun. Sungguh ironis karena rentang usia tersebut seorang wanita biasanya masih aktif berkarier dan mengurus keluarga. Itulah sebabnya, semua wanita yang sudah menikah atau pernah berhubungan seksual disarankan melakukan deteksi dini dengan papsmear, yakni pengambilan sel dari serviks untuk diperiksa dengan mikroskop, guna mengetahui adanya kelainan pada serviks. Papsmear "diwajibkan" setidaknya tiga tahun setelah menikah atau berhubungan intim, dan sebaiknya rutin dilakukan setahun sekali.

Namun, pemeriksaan ini juga memiliki keterbatasan karena sifatnya yang subjektif. Diperkirakan, 25 persen kegagalan skrining dengan papsmear karena kesalahan dalam cervical sampling atau dalam menginterpretasi hasilnya. Dengan metode konvensional, preparat sering kali mengandung darah, lendir, sel-sel inflamasi, dan sel-sel yang menumpuk sehingga menurunkan akurasi interpretasinya. "Kegagalan papsmear berkisar 10 persen-60 persen," kata Ovy.

Nah, saat ini kanker serviks bisa dikatakan sebagai satusatunya kanker yang dapat dicegah melalui vaksinasi. Untuk itu, selain rutin papsmear, upaya memproteksi diri dari kanker rahim hendaknya dilengkapi dengan vaksinasi HPV. Vaksin ini efektif diberikan pada wanita semua umur, dan dapat diberikan sejak usia 9 tahun. Di Indonesia, vaksin ini sudah mulai digunakan sejak Juni 2007 dan bisa diberikan mulai usia 14 tahun dengan tiga kali injeksi.
(sindo//tty)

Akupunktur Bantu Terapi Kanker

METODE tusuk jarum atau akupunktur konon membantu mengurangi gejala atau keluhan efek samping pengobatan kanker seperti semburan panas (hot flushes), fatigue dan keringat dingin pada malam hari. Metode ini bahkan disinyalir lebih manjur dibanding penggunaan antidepresan.

"Studi ini membandingkan efektivitas akupunktur dibanding terapi obat-obatan, dan kami mendapati bahwa akupunktur cukup efektif dan tanpa efek samping," ujar direktur bagian radiasi onkologi di rumah sakit Henry Ford Hospital di Detroit, Dr Eleanor M Walker.

"Jika mengonsumsi obat, umumnya dua minggu setelah berhenti minum obat, pasien mulai mengalami gejala-gejala tersebut. Dengan akupunktur, keluhan ini baru akan muncul setelah sekitar 15 minggu," ujar Walker. Dalam ilmu pengobatan China, ilmu akupunktur dipercaya bekerja dengan cara memblokade aliran energi sepanjang titik meridian tubuh. Walker juga menambahkan bahwa garis meridian dalam ilmu pengobatan China sangat terkait erat dengan jaringan saraf tubuh. Sementara dalam pengobatan Barat, alasan tentang kinerja akupunktur ini kurang jelas. Namun, sejumlah teori mengemukakan bahwa menusukkan jarum akan membantu pelepasan endorphin, yakni hormon yang membuat seseorang merasa bahagia.

Terkait pengobatan atau terapi kanker payudara, biasanya memang dapat memicu menopause dini dan mengurangi produksi estrogen. Akibatnya, timbul efek samping seperti semburan panas, keringat berlebih, dan fatig. Untuk itulah, wanita dengan kanker payudara terkadang diberikan terapi sulih hormon (TSH). Bersamaan dengan itu, dokter akan meresepkan obat antidepresan yang juga dapat menimbulkan efek samping tertentu.

Pada studi terbaru tersebut, Walker dan timnya membandingkan akupunktur dengan penggunaan antidepresan Effexor pada 47 wanita dengan kanker payudara. Masing-masing secara acak menerima perawatan dengan antidepresan atau akupunktur selama 12 minggu. Hasilnya, para partisipan ini mengaku mengalami sekurangnya 14 kali semburan panas dalam seminggu.

Selepas studi, kedua kelompok tersebut juga dilaporkan mengalami peningkatan serupa dalam hal semburan panas dan gejala menopause lainnya. Akan tetapi, tidak ditemukan adanya efek samping lain pada kelompok wanita yang diberi akupunktur. Sementara pada wanita yang diberi antidepresan mengalami efek samping lain seperti mual, mulut kering, sakit kepala, sulit tidur, dan sulit buang air besar.

Efek positif lainnya dari akupunktur adalah mereka mengaku merasa lebih berenergi, lebih nyaman, dan bersemangat, serta peningkatan gairah seksual. Hasil temuan tersebut lalu dipresentasikan dalam pertemuan tahunan American Society for Therapeutic Radiology and Oncology di Boston.

Menanggapi hal ini, kepala hematologi-onkologi dari Sistem Kesehatan Ochsner di Baton Rouge La, Dr Jay Brooks, mengungkapkan bahwa temuan tersebut memang menarik, sayangnya masih merupakan studi dalam skala sangat kecil.

"Hingga kini saya belum akan merekomendasikan perawatan dengan akupunktur pada pasien saya. Kami memerlukan percobaan lain dalam skala lebih besar. Pasalnya, gejala yang diukur sangat beragam dan acap berubah sehingga diperlukan lebih banyak responden lagi untuk membuktikannya," sebutnya.
(sindo//tty)

Bawang Putih Mampu Menghambat Pertumbuhan Se-sel Kanker

SELAIN sebagai bumbu untuk masakan, bawang putih juga punya banyak manfaat untuk kesehatan. Salah satunya adalah mencegah timbulnya sel-sel tumor dan menghambat pertumbuhan sel-sel kanker. Kandungan apa yang membuat bawang putih sangat bermanfaat?

Tanaman dengan nama latin Allium Sativum ini termasuk bumbu dapur yang sangat populer di Asia. Ia memberikan rasa harum yang khas pada masakan, sekaligus menurunkan kadar kolesterol yang terkandung dalam bahan makanan yang mengandung lemak. Manfaat bawang putih bagi kesehatan sudah sangat populer di tengah masyarakat sejak zaman dulu. Selain sebagai pendongkrak stamina untuk berhubungan seks, bawang putih juga mampu manangkal flu, membasmi cacing perut, mengobati reumatik, dan meredakan insomnia. Selain itu, bawang putih mampu memerangi penyakit-penyakit degeneratif seperti hipertensi, stroke, jantung koroner, diabetes, ketidakseimbangan kolesterol dan kanker.

Di negeri China, bawang putih dikenal dengan nama "suan". Orang China tidak hanya memasukkan bawang putih ke dalam masakannya, tapi juga mencampurkannya dengan teh. Itulah obat turun panas antibiotik. Orang India menggunakan bawang putih untuk menyembuhkan luka dan borok, sementara orang Jepang meminumnya dalam bentuk juice.

Bagaimana konsumsi bawang putih di negeri kita sendiri? Di berbagai daerah di Jawa, penggunaan bawang putih untuk jamu tradisional belakangan sudah mulai dilakukan, terutama di daerah pedesaan. Di Sumatera Selatan, bawang putih banyak digunakan dalam pembuatan saus empek-empek.

Makan bawang putih satu siung selama 2 kali seminggu setelah makan siang bisa membangkitkan gairah badan yang lesu menahannya dari ancaman berbagai penyakit. Pengobatan tradisional pun akhir-akhir ini sudah menggunakan campuran bawang putih. Alasannya, bawang putih telah diketahui bisa menangkal atau menyembuhkan banyak penyakit seperti TBC, influensa, antidiabetes, menurunkan tekanan darah tinggi, mengobati luka bakar, reumatik, mencegah keracunan hati, antikolesterol, dan sebagainya.

Antikanker

Salah satu khasiat bawang putih yang belakangan ini menjadi topik pembahasan dan penelitian adalah kemampuannya mencegah sel-sel tumor atau kanker. Hingga kini, penyakit kanker memang masih menghantui manusia. Penyakit ini merenggut 30 persen dari sekitar 7 juta kematian di dunia setiap tahun. Sir Richard Dool, ahli kanker terkemuka dari Inggris, mengatakan, timbulnya kanker sebenarnya bisa dikurangi sampai 60 persen, jika orang gemar mengonsumsi makanan alamiah dan berhenti merokok.

Dalam beberapa tahun terakhir, sebuah penelitian yang dilakukan oleh mahasiswa ITB menunjukkan bahwa zat "allicin" yang terkandung dalam bawang putih mampu mencegah timbulnya sel-sel tumor, dan dapat menghambat pertumbuhan sel-sel kanker. Percobaan pada tikus menunjukkan bahwa ternyata zat "allicin" secara aktif menghambat pertumbuhan tumor paling sedikit 6 bulan setelah perlakuan. Mekanisme dari efek pencegahan oleh minyak astiri bawang putih pun sudah diteliti oleh Jean Pierre dan kawan-kawannya belum lama ini. Ternyata percobaan pada manusia juga memberikan hasil yang nyata tentang pencegahan timbulnya kanker dan tumor. Bahkan para peneliti dari Mitsui Natural Chemical Association (Jepang) pernah mengungkapkan bahwa hasil olahan makanan masyarakat Jepang yang menggunakan campuran bawang putih menjauhkan para konsumennya dari penyakit tumor dan kanker. Selain itu, bawang putih juga dapat menurunkan berat badan.

"Senyawa yang ada pada bawang putih adalah aliin. Ketika bawang putih dihaluskan, zat aliin yang sebenarnya tidak berbau akan terurai. Dengan dorongan enzim alinase, aliin terpecah menjadi alisin, amonia, dan asam piruvat. Bau tajam alisin disebabkan karena kandungan zat belerang. Aroma khas ini bertambah menyengat ketika zat belerang (sulfur) dalam alisin diterbangkan ammonia ke udara sebab ammonia mudah menguap. Senyawa alisin berkhasiat menghancurkan pembentukan pembekuan darah dalam arteri, mengurangi gejala diabetes dan mengurangi tekanan darah," urai Ahli Gizi Esmin Sinurat dari RS. Cipto Mangunkusumo, Jakarta.
(Genie/Genie/tty)

Cegah Kanker dengan Aktivitas Fisik

SEBUAH studi terbaru yang dipublikasikan dalam American Journal of Epidemiology mengungkapkan, orang dewasa yang secara teratur beraktivitas, baik berolahraga maupun bekerja, berisiko lebih rendah terkena kanker.

Studi yang melibatkan hampir 80.000 orang dewasa pria dan wanita di Jepang tersebut menunjukkan bahwa pria ataupun wanita yang rajin beraktivitas berisiko lebih rendah terkena berbagai jenis kanker. Setelah diteliti lebih lanjut, olahraga teratur rupanya terkait dengan penurunan risiko kanker usus besar, kanker hati, kanker pankreas, dan kanker pencernaan.

Mereka juga mendapati bahwa efek perlindungan ini, terutama lebih kuat pada pria atau wanita dengan berat badan normal.
Hal ini tentunya mendukung teori yang menyebutkan bahwa aktivitas fisik dapat menurunkan risiko kanker, setidaknya melalui berat badan yang terkontrol.

Dalam penelitian tersebut, Dr Manami Inoue dan timnya dari Pusat Kanker Nasional Jepang di Tokyo menganalisis kejadian kanker pada 79.771 partisipan pria dan wanita berusia 45-74. Antara rentang waktu 1995 dan 1999, partisipan tersebut disurvei tentang level aktivitas fisik yang mereka lakukan, diet, serta kebiasaan dan gaya hidup mereka. Peneliti terus mengikuti perkembangan ini hingga 2004, dan mendapati lebih dari 4.300 kasus kanker baru terdiagnosis.

Secara umum, peneliti mengatakan, risiko perkembangan beragam jenis kanker terkait rasa malas partisipan untuk meningkatkan level aktivitas fisik. Jika dirata-ratakan, partisipan pria yang paling sering beraktivitas fisik berisiko 13 persen lebih rendah terkena kanker dibanding pria yang paling jarang beraktivitas fisik. Adapun wanita paling aktif berisiko 16 persen lebih rendah terkena kanker dibandingkan rekan-rekan mereka yang kerjanya kerap hanya duduk diam terus menerus.

Keterkaitan ini makin nyata saat peneliti memperhitungkan sejumlah faktor lain seperti usia, berat badan, kebiasaan merokok, dan asupan kalori per hari.

Aktivitas fisik yang dimaksud tak hanya mengacu pada olahraga di waktu senggang, tapi juga jumlah waktu yang dihabiskan partisipan untuk berjalan kaki, aktivitas fisik di kantor, dan pekerjaan rumah tangga.

"Hasil penelitian kami menemukan bahwa jumlah total aktivitas fisik harian (tak hanya olahraga) mungkin bermanfaat dalam mencegah perkembangan kanker pada pria dan wanita di Jepang," ujar Inoue.

Peneliti juga mencatat bahwa populasi warga Jepang yang rata-rata kurus mungkin memiliki keterkaitan dengan penurunan risiko kanker ini.

Dengan demikian dapat disimpulkan, aktivitas fisik mungkin membantu mencegah kanker karena setidaknya berat badan jadi terkontrol. "Secara teoritis, aktivitas fisik juga punya efek positif lainnya dalam hal menunda terjadinya kanker," kata Inoue.

Inoue menambahkan, aktivitas fisik misalnya, dapat menstimulasi sistem kekebalan tubuh yang merupakan salah satu kemampuan alami tubuh dalam melawan kanker. Ini mungkin juga terkait kadar hormon tertentu, termasuk hormon seks dan faktor pertumbuhan lainnya yang dapat memicu pertumbuhan dan penyebaran tumor.
(sindo//tty)