Tampilkan postingan dengan label Bau Mulut. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bau Mulut. Tampilkan semua postingan

Mulut yang Tidak Sehat = Ingatan Payah

Susah mengingat nama orang, rute jalan atau sederet angka menandakan kesehatan mulut seseorang kurang sehat. Sebuah penelitian membuktikannya.

Dr. Bei Wu, seorang gerontologis dari University of North Carolina at Greensboro telah melakukan studi untuk mengetahui hubungan antara kesehatan mulut dan daya ingat.
Para peneliti sebenarnya telah lama mempelajari hubungan tersebut. Kesehatan mulut dicurigai menjadi salah satu penyebab mengapa daya ingat seseorang rendah.

Seperti dilansir Health24, sebanyak 273 pasien dari West Virgina melakukan tes kemampuan otak, evaluasi kesehatan gigi, dan cek darah untuk mengetahui ada atau tidaknya protein yang menyebabkan kemampuan otak berkurang. Hasilnya menunjukkan bahwa mereka yang memiliki daya ingat rendah ternyata memiliki kesehatan mulut yang buruk.

"Sudah semakin jelas dan dapat disimpulkan bahwa untuk mendapatkan sehat yang utuh, seseorang harus mempunyai kesehatan mulut yang baik," ujar Dr Richard Crout, ahli penyakit mulut dari West Virginia University School of Dentistry, Morgantown.

Dr. Wu dan Crout melaporkan bahwa mulut yang tidak sehat akan mempengaruhi fungsi otak, terutama menjelang dewasa. Namun studi ini akan terus dikembangkan untuk mengetahui adanya faktor status sosial ekonomi dan kondisi medis, terutama penyakit kardiovaskular.

"Mulut yang tidak sehat memang diketahui dapat mempengaruhi kesehatan jantung, stroke, diabetes, dan juga penyakit alzheimer," ujar Crout.

Hal ini dibenarkan oleh Dr Tengku Bahdar Johan SpPD, seorang spesialis penyakit dalam dari rumah sakit Bintaro Jakarta yang sering mendapatkan kasus-kasus penyakit dalam yang bersumber dari mulut.

"Saya sering mendapatkan pasien yang mengeluh sakit tertentu, dan setelah diperiksa dan didiagnosisi, ternyata sumber penyakitnya adalah mulut," ujar Bahdar.

Mulut dan gigi ternyata erat kaitannya dengan penyakit yang menyerang organ, seperti jantung (endocarditis), otak (abses), paru (pneumonia), kulit (urticaria/biduran), tulang (radang sebdi), dan jaringan lunak (selulit).

Menurut Bahdar, infeksi pada gigi dan gusi bisa menyebar dan merembet ke dalam tubuh melalui pembuluh darah, yang akhirnya menimbulkan penyakit sistemik dalam tubuh.

"Jadi jika suatu saat terdeteksi suatu penyakit dalam tubuh, sebaiknya cek dulu, apakah kesehatan mulut sudah baik atau belum, karena bisa jadi awalnya dari mulut. Dan pengobatan pun harus dimulai dari mulut," ujar Bahdar.

Usir Bau Mulut dengan Teh

TEH sebagai pelepas dahaga, ternyata juga mampu mencegah timbulnya gigi berlubang, memperkuat email, dan mengontrol bakteri dalam mulut. Hal tersebut mampu menyingkirkan bau mulut atau halitosis.

Hampir semua jenis teh berperan besar terhadap kebugaran dan kesehatan peminumnya. Para ahli yang meneliti daun teh sepakat, teh mengandung senyawa-senyawa bermanfaat seperti polifenol, theofilin, flavonoid, tanin, vitamin C dan E. Teh juga mengandung sejumlah mineral seperti Zn, Se, Mo, Ge, dan Mg.

Penelitian oleh ilmuwan di Singapura selama empat tahun menambah panjang daftar manfaat teh. Profesor dari Departemen Obat untuk Kesehatan Jiwa Universitas Nasional Singapura, Ng Tze Pin, mengatakan, teh itu murah, tidak beracun, dan dikonsumsi masyarakat luas. "Selain bagus untuk tubuh, teh bermanfaat juga untuk mencegah gigi berlubang, memperkuat email, dan mengontrol bakteri di dalam mulut," katanya.

Kadar flour dan polifenol yang cukup tinggi pada teh, Ng Tze Pin menyebutkan, merupakan unsur penting untuk kesehatan, mencegah plak dan melindungi mulut dari bakteri jahat. Bila bepergian dan tidak sempat sikat gigi, ada baiknya berkumur dengan teh tawar hangat. "Jika pada mulut bayi terdapat selaput atau lendir putih pada saat bangun tidur, bersihkan dengan kapas yang telah dicelupkan pada teh, mulut akan lebih segar," sebutnya.

Salah satu gangguan pada mulut yang mengganggu adalah bau mulut atau halitosis. Biasanya berbagai cara dilakukan untuk menghilangkannya. Mulai pengobatan tradisional yang menggunakan berbagai ramuan seperti jamu, hingga berkonsultasi dengan dokter.

Namun, penyembuhan halitosis tidak semudah membalik telapak tangan. Halitosis sering kambuh dan untuk menghilangkannya dibutuhkan waktu dan ketelatenan.

Kabar gembira datang dari sebuah penelitian yang mengungkap teh memiliki zat yang mampu menghilangkan halitosis. Para peneliti dari Lembaga Perlindungan Kesehatan Masyarakat dan Lingkungan di Belanda menemukan bahwa di dalam teh, terdapat zat yang bernama polyphonol yang dapat menghambat perkembangan bakteri penyebab napas berbau tidak sedap.

"Secangkir teh dengan kekentalan normal, cukup untuk membunuh bakteri pada lidah. Selain menghambat pertumbuhan pathogen dalam mulut, teh bermanfaat bagi kesehatan mulut manusia dengan menekan komponen penyebab napas tak sedap yang dihasilkan bakteri pathogen," kata Dr Sirving OKeli.

Untuk mendapatkan hasil yang maksimal, Sirving menyarankan agar para penderita halitosis tidak mengonsumsi teh dengan campuran susu. Karena, susu bermanfaat untuk menetralisir racun yang masuk ke dalam tubuh. "Akan lebih baik meminum teh tanpa campuran gula. Intinya meminum teh tawar lebih baik bagi mereka yang mengalami halitosis," ungkapnya lagi.

Untuk mendapatkan manfaat optimal, Sirving menyarankan agar meminum teh dengan takaran yang tepat dan pas. Teh harus diseduh dengan kekentalan yang cukup, yaitu satu bungkus teh celup untuk satu cangkir. "Kalau kadar teh terlalu sedikit, maka efeknya bagi tubuh juga akan sedikit," sebutnya lagi.

Tercatat, hampir 90 persen penyebab bau mulut adalah bakteri penghasil sulfur yang tinggal di bagian belakang mulut. Kebanyakan bau mulut berkaitan dengan kebersihan mulut yang tak terjaga, selain gigi berlubang, infeksi gusi, dan mulut kering. Air ludah yang kental juga bisa menyebabkan bau mulut. Penyebab lainnya, seperti dehidrasi, stres, pemakaian obat kumur beralkohol, usia lanjut atau obat-obat tertentu.

Hal lain yang menyebabkan bau mulut misalnya, sinusitis, diabetes juga gangguan hati dan ginjal. "Jika problem bau mulut ini muncul tiba-tiba dan memburuk dalam waktu singkat, atau dibarengi dengan demam atau batuk, segera periksa ke dokter," kata dia.
(sindo//tty)

Cara Cepat Terhindar dari Bau Badan dan Bau Mulut

SETIAP perempuan mendambakan penampilan yang bersih dan terawat. Dari ujung kaki, sampai ke ujung rambut. Tapi "kesempurnaan" penampilan itu hilang oleh bau badan dan bau mulut. Kedua masalah itu seperti ancaman serius untuk perempuan yang ingin kreatif, percaya diri dan produktif. Jangan takut, ada cara sederhana untuk mengatasi kedua masalah ini.

Bau badan dan bau mulut seperti musuh yang setiap saat bisa merontokkan kepercayaan diri, dan bahkan mungkin kecantikan. Kedua persoalan itu kemudian merentet ke berbagai persoalan lain. Kehilangan kepercayaan diri, relasi, menurunnya produktivitas dan kreativitas.

Bau Badan

Semua orang berkeringat. Yang menjadi persoalan adalah mengapa keringat yang keluar berbau? Sekadar diketahui, di setiap helai rambut terdapat kelenjar apokrin yang mengandung asam lemak (jenuh) dan berminyak. Sejak pubertas, tubuh mengeluarkan bau khas di sekitar ketiak, kaki dan alat kelamin. Keringat yang keluar kemudian berbau, antara lain, karena keringat sudah bercampur dengan bakteri. "Dapat juga disebabkan oleh pola makan yang banyak mengandung protein, lemak, karbohidrat, dan juga bila kita memiliki penyakit kronis seperti diabetes, gagak ginjal, sirosis hati," terang dr Erna dari Natural Healing Clinik di Jalan Kesehatan, Pondok Cabe, Jakarta.

Daun Sirih

Menurut Erna, minum jamu dan mandi sauna dapat menghilangkan bau badan. Selain minum jamu dan mandi sauna, masih ada praktik tradisional lain yang bisa dengan mudah dilakukan sendiri di rumah. Mandi rebusan daun sirih. Sudah sejak dulu daun sirih dipercaya dapat menghilangkan bau badan karena mengandung minyak atsiri. Rebus daun sirih sebanyak 0,5 kg dalam 1 liter air hingga mendidih. Angkat dan campur dengan air dingin hingga hangat-hangat kuku. Setelah itu, mandi. Masih dengan daun sirih, cara lain yang bisa dipakai adalah minum air rebusan daun sirih. Sediakan lima lembar daun sirih dan lima gelas air putih. Rebus hingga masak. Setelah mendidih dan dingin, minum airnya. Minum 2 gelas sehari selama 3 hari berturut-turut.

Bau Mulut

Bau napas tak sedap yang berasal dari dalam mulut disebut juga halitosis. Ada dua faktor luar dan faktor dalam. Sedangkan faktor luar, berhubungan dengan makanan. Menghasilkan volatile sulfur compounds (VSC) penyebab bau.

Sedangkan faktor dalam berhubunngan dengan beberapa penyakit atau gangguan. Sebut saja karies gigi, radang kronis pada saluran pernapasan, dan gangguan pencernaan. Rongga hidung yang terinfeksi juga dapat menyebabkan bau mulut. Umumnya infeksi rongga hidung diderita oleh anak kecil. Gangguan lambung serta usus juga menyebabkan bau mulut. Dan yang paling penting adalah bahwa bau mulut merupakan manifestasi dari beberapa penyakit dalam yang sangat serius.

Pasta Gigi

Salah satu cara menggosok gigi secara teratur dengan pasta gigi. Pasta gigi merupakan komponen yang mengandung zat pembersih. Secara umum, pasta gigi mengandung fluoride yang berfungsi untuk mencegah kerusakan gigi, dan melawan bakteri.

Mouthwash dan Makanan

Mouthwash memiliki kandungan antiseptik yang berfungsi untuk mengurangi bakteri dalam mulut yang membentuk plak di dalam gigi. Mouthwash biasanya dilengkapi dengan pengharum mulut. Namun, mouthwash tidak mungkin membunuh bakteri dalam mulut. Tapi jangan juga menelan mouthwash karena dapat membunuh flora normal dalam saluran pencernaan, yang akhirnya justru akan mengganggu keseimbangan flora di dalam saluran tersebut.

Selain mouthwash, makanan bisa memerangi masalah pada gigi, mengikis plak dan menciptakan napas yang segar. Dengan demikian, tidak ada salahnya juga Anda mengkonsumsi makanan-makanan itu, antara lain apel dan wortel.
(sindo//tty)

Bau Mulut Pertanda Gigi Berlubang

GIGI tak sekadar aksesori di mulut. Gigi pun wajib dijaga kesehatannya. Nah, status gigi sehat dapat dilihat dari ada tidaknya karies atau gigi yang berlubang.

Dokter gigi dari Universitas Indonesia, DrdrgIndirawati Tjahja N SpPerio menegaskan, status kesehatan gigi dan mulut pada seseorang dapat dideteksi melalui adanya lubang gigi (karies) dan penyakit gusi (penyakit periodontal). "Banyak faktor yang menyebabkan seseorang mengalami penyakit gigi berlubang, dan masalah gigi berlubang ini adalah masalah terbanyak," ujar dokter yang praktik di RS Saint Carolus di daerah Salemba Raya ini.

Dia mengatakan, penyebab penyakit tersebut adalah akumulasi plak dari kebersihan mulut yang buruk. Umumnya, karies ini sudah ditemukan dalam keadaan yang sudah parah atau sudah lanjut.

"Karies ditimbulkan dari plak, yang terjadi karena melakukan gosok gigi yang kurang bersih. Di dalam mulut terdapat banyak kuman yang bersarang," ucap dokter yang baru saja meraih gelar doktor pada Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia.

Plak gigi adalah suatu lapisan bening, yang sangat tipis, terdiri dari mucusdan kumpulan bakteri yang menyelimuti permukaan gigi. Plak gigi hanya dapat dilihat dengan pewarnaan pada gigi. Pewarna yang digunakan juga khusus dikenal dengan nama disclosing agent. "Dari adanya plak ini, pelan- pelan lubang akan timbul dari yang kecil, dan akhirnya membesar," tutur Indirawati.

Dia menambahkan, air liur juga bisa menjadi faktor. Di dalam mulut ini, terdapat dua jenis air liur, yaitu jenis asam dan basah. Biasanya, pada seseorang yang mempunyai air liur basah cenderung tidak mempunyai lubang pada gigi. Berbeda dengan air liur jenis asam yang lebih banyak menyebabkan karies.

"Untuk masalah gigi berlubang ini, awalnya bermula dari faktor makanan. Selain itu, juga faktor air ludah juga ikut memengaruhi," sebut dokter yang juga berprofesi sebagai peneliti di Litbang Departemen Kesehatan RI.

Pada anak-anak misalnya, beberapa jenis makanan bisa berpengaruh. Sebut saja seperti makanan yang terlalu banyak mengandung gula. Misal pada susu botol yang mereka konsumsi karena kandungan karbohidrat yang banyak.

"Semua makanan yang dikonsumsi anak-anak hendaknya mendapat pengawasan dari orangtuanya," ujarnya.

Indirawati melanjutkan, faktor lingkungan juga memengaruhi. Misalnya saja ada orang yang mengatakan bahwa biaya perawatan yang mahal sehingga membuat seseorang semakin malas ke dokter gigi.

"Banyak yang menyepelekan penyakit karies. Mereka tidak memedulikannya. Padahal jika penyakit ini dibiarkan, akan menimbulkan berbagai macam penyakit. Salah satunya kanker mulut," ucapnya

Dokter yang juga praktik di rumahnya di kawasan Cempaka Putih ini menambahkan, bau mulut pada seseorang juga menjadi faktor akibat adanya karies.

Penyebabnya, mulut yang mempunyai banyak kuman ini jika terdapat lubang, maka kuman akan terus masuk ke dalam gigi dan akan berkembang biak sehingga akan menimbulkan bau. "Jika keadaan gigi atau mulut seseorang bersih, maka bau mulut tidak akan datang," ujarnya.

Pernyataan yang sama mengenai bau mulut ini juga dilontarkan dokter gigi dari Universitas Dr Moestopo (beragama) Drg Lita Darmawan.

"Bau mulut atau halitosis, penyebab umumnya adalah penyakit jantung, diabetes, atau gangguan pencernaan, sedangkan penyebab lokalnya adalah lubang gigi, karang gigi, dan sisa makanan," ucap Lita yang juga pakar estetika gigi dari klinik Kharinta Dental di kawasan Bintaro.

Lita menuturkan, tandatanda dari bau mulut ini adalah mulut kering, air liur kental, dan tidak nyaman untuk berbicara. Itu penyebabnya adalah keseimbangan asam mulut yang hilang.

Indirawati mengatakan, gigi adalah faktor lokal infeksi terhadap kesehatan di seluruh tubuh seseorang. Hal itu karena kuman yang ada di dalam gigi akan terbawa ke seluruh tubuh sehingga menimbulkan penyakit. "Itulah mengapa penting menjaga kesehatan gigi," pesannya.

Luangkan Waktu, Gelar "Ritual" Perawatan Gigi di Rumah

UMUMNYA faktor penyebab datangnya karies adalah kurangnya kesadaran atau ketidaktahuan masyarakat akan pentingnya kesehatan mulut. Terlebih biaya perawatan yang tinggi dan perilaku dokter gigi yang pasif cenderung memberi pelayanan kuratif terhadap pasien.

"Dalam keseharian, diharapkan ada kerja sama antara pasien yang menderita karies (faktor umur dan jenis kelamin), rumah sakit (dari pihak dokter gigi yang merawat), dan puskesmas yang dapat meningkatkan kesehatan pada gigi," ujar Indirawati. Sebenarnya perawatan dalam menjaga kesehatan gigi ini mudah dilakukan. Cukup dari hal yang sederhana saja, yaitu perawatan yang dilakukan di rumah atau yang dikenal dengan homecare.

Ada tiga "ritual" membersihkan gigi di rumah (homecare) yang dianjurkan oleh dokter gigi di dunia: menyikat gigi, berkumur, dan menggunakan benang gigi. Di Indonesia, penggunaan obat kumur antiseptik juga telah mendapat rekomendasi dari Persatuan Dokter Gigi Indonesia sebagai salah satu syarat untuk mencegah timbulnya penyakit mulut dan gigi.

"Banyak orang yang mengabaikan pentingnya homecare setelah perawatan yang meliputi menyikat gigi, berkumur, dengan obat kumur antiseptik dan menggunakan benang gigi, atau dental fluss," kata Lita yang mengikuti program kursus mengenai perawatan gigi di Amerika Serikat.

Banyak pasien datang dengan tuntutan ingin segera mendapatkan gigi yang sempurna, baik warna maupun bentuk. Mereka pun tidak segan mengeluarkan biaya besar untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Alangkah sia-sianya semua usaha ini jika pasien tidak melakukan perawatan kesehatan gigi di rumah untuk mempertahankan hasil perawatan dokter gigi.

"Kelalaian melakukan homecare akan mengakibatkan kegagalan perawatan dan meningkatnya biaya perawatan gigi," tutur Lita saat seminar diselenggarakan oleh produk obat kumur Listerine. Banyak kebiasaan sehari-hari yang menambah rusak gigi.

Membersihkan gigi dengan cara yang salah, misalnya. Begitu juga dengan terlalu jarang membersihkan gigi hingga plaknya masih melekat pada gigi, mengonsumsi makanan yang memiliki daya rusak tinggi terhadap gigi, merokok, minuman kopi, dan meminum minuman beralkohol terlalu banyak.

Menurut dokter gigi dari Universitas Trisakti, drg Joko Kusnoto DDS, MS, PhD, untuk mencegah masalah yang terjadi pada gigi, selain menyikat bisa pula berkumur dengan obat kumur. "Obat kumur antiseptik bisa digunakan untuk membersihkan daerah-daerah yang sulit dijangkau oleh sikat gigi, pasien dianjurkan menggunakan obat kumur," ucap dokter mengajar pada Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Trisakti itu.

Lita menilai sebagian orang menganggap perawatan gigi kurang penting, tetapi jika mereka sudah merasa sakit, barulah mereka merasa bahwa merawat gigi itu penting.
(sindo//tty)

Antisipasi Bau Mulut

BAU mulut atau sering disebut halitosis kadang kala sering terjadi selama berpuasa. Apakah bau mulut harus selalu terjadi selama berpuasa? Hal ini sering menjadi pertanyaan bagi orang yang sedang melaksanakan ibadah puasa.

Sebenarnya bau mulut tidak selalu terjadi pada seseorang yang sedang berpuasa. Secara normal, apabila mulut kering karena air liur yang kurang, atau akibat kurang melakukan aktivitas berkunyah akan menyebabkan bau mulut yang tidak segar. Hal inilah yang terjadi apabila kita sedang berpuasa.

Ini karena selama 14 jam tidak ada makanan yang dikunyah dan tidak ada air atau cairan yang diminum. Namun, sebenarnya bau mulut yang ditimbulkan selama berpuasa bukan merupakan bau mulut atau halitosis yang terjadi akibat kelainan suatu organ.

Karena itu yang terpenting adalah membedakan apakah bau mulut tersebut karena kelainan organ atau hanya karena mulut kering saja selama berpuasa. Bau mulut akibat kelainan sesuatu organ dapat terjadi akibat kelainan pada rongga mulut, dari telinga hidung dan tenggorokan (THT), dari saluran pernapasan atau saluran pencernaan.

Sebagian besar sebenarnya penyebab bau mulut bersumber akibat kelainan pada rongga mulut. Kelainan pada daerah THT bisa karena sinusitis atau rhinitis kronis, kelainan paru bisa berupa bronkitis kronis atau adanya kelainan struktural pada paru seperti bronkiektasis, sedang kelainan pencernaan atas bisa karena adanya kuman Helicobacter pylori.

Keadaan rongga mulut yang berpotensi menimbulkan bau mulut adalah adanya karies (gigi berlubang), atau adanya sisa akar gigi, karang gigi, peradangan pada gusi (gingivitis), atau penggunaan gigi palsu yang tidak benar.

Kenapa kelainan pada gigi menimbulkan bau yang tidak sedap?

Keadaan kelainan pada gigi menimbulkan bau mulut yang tidak sedap dapat disebabkan beberapa faktor. Salah satunya karena gigi berlubang. Pada gigi berlubang terjadi penumpukan sisa makanan dalam lubang gigi tersebut sehingga terjadi proses pembusukan sisa makanan oleh bakteri dan hal inilah yang menimbulkan bau busuk.

Bau gigi yang tak sedap dapat pula diakibatkan. Pada akar gigi sisa makanan juga dapat tertinggal akibat adanya permukaan akar gigi yang kasar sehingga sisa makanan yang tertinggal tersebut sulit dibersihkan.

Pada gigi yang mempunyai karang gigi pada permukaannya akan menyebabkan permukaan gigi menjadi kasar sehingga hal ini menyebabkan sisa makanan mudah menempel dan sulit dibersihkan, dan lama-kelamaan akan menyebabkan penebalan lapisan karang gigi yang pada akhirnya menimbulkan bau tidak sedap.

Peradangan pada gusi (gingivitis) merupakan radang pada gusi yang terjadi karena adanya karang gigi yang menempel di gigi dan gusi di mana hal ini akan menyebabkan peradangan gusi. Gusi yang meradang tersebut akan menimbulkan bau yang tidak sedap.

Pemakaian gigi palsu yang tidak benar dapat menyebabkan bau gigi yang tak sedap. Gigi palsu seharusnya dirawat seperti gigi asli sehingga harus selalu dibersihkan dari sisa-sisa makanan. Jika gigi palsu tersebut tidak dibersihkan, akan menimbulkan bau yang tidak sedap.

Mengingat pentingnya kesehatan gigi dan juga informasi bahwa penyebab terbanyak bau mulut adalah karena masalah gigi seperti yang disebut di atas, maka masalah seputar gigi dan rongga mulut yang ada harus diobati.

Biasanya jika selama berpuasa terjadi bau mulut akibat kelainan gigi, biasanya keadaan ini akan lebih dirasakan. Karena itu selama berpuasa jika merasakan bau mulut yang berlebihan, harus selalu berpikir kemungkinan adanya kelainan pada rongga mulut.

Tip menjaga mulut tetap sehat selama berpuasa

Selama berpuasa agar nilai ibadah berpuasa kita tetap terjaga, maka kesehatan mulut harus selalu diperhatikan, antara lain dengan cara memelihara kebersihan mulut dengan menggosok gigi dan lidah setelah sahur dan setelah berbuka. Jangan menunda gosok gigi untuk tidur terlebih dahulu setelah kita sahur.

Gunakan benang gigi (dental floss) untuk membersihkan sela-sela gigi yang tidak terjangkau dengan sikat gigi. Minum air putih sebanyak 8-10 gelas selama kita berbuka dan saat sahur. Konsumsi sayur-sayuran dan buah-buahan selama berbuka dan sahur. Beberapa buah-buahan tertentu seperti semangka, bengkuang merupakan buah yang baik dikonsumsi karena banyak mengandung air.

Hindari merokok. Asap rokok memperburuk kebersihan mulut. Selain itu rokok menimbulkan aroma yang tidak sedap.

Jika kebetulan ada masalah dengan gigi selama berpuasa segera kontrol kepada dokter gigi agar perawatan gigi dapat dilakukan dengan sebaik-baiknya. Hindari makanan yang beraroma tajam, antara lain bawang, petai, jengkol, dan durian.

Selain itu, hindari makanan yang mudah lengket pada gigi, seperti cokelat, es krim, biskuit, dan kue basah lainnya. Jika memang tetap ingin mengonsumsi makanan tersebut, segera berkumur atau dibersihkan agar makanan tersebut tidak menempel pada gigi dalam waktu yang lama.

Bau mulut sebenarnya dapat diminimalkan selama kita berpuasa dengan tetap memperhatikan kebersihan mulut dan mengonsumsi makanan, minuman, dan buah-buahan yang baik untuk kebersihan mulut. Jika ada masalah dengan kesehatan mulut, segera konsultasikan dengan dokter gigi sehingga keadaan bau mulut tidak berlanjut. (Dr H Ari Fahrial Syam SPPD-KGEH MMB & Drg Seri Fahrial) (sindo//nsa)