Tampilkan postingan dengan label Kesehatan Ginjal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kesehatan Ginjal. Tampilkan semua postingan

Kurang Minum, Hati-hati Ginjal Anda!

Hampir setiap hari kita mendengar orang menyerukan untuk meminum air 8 gelas per hari atau setara dengan 2 liter air putih. Apa kaitannya kurang minum dengan kesehatan ginjal?

Dikutip dari Ayushveda.com, air putih dapat membantu melancarkan metabolisme dalam tubuh dengan cara mengubah makanan menjadi energi. Air berperan sebagai bahan bakar untuk mendorong reaksi kimia metabolisme. Jika tidak minum cukup air, maka tidak dapat membakar kalori secara baik.

Kurang mengkonsumsi air akan membuat tubuh mengambil air dari komponen yang lebih dekat yaitu darah. Karena kandungan air dalam darahnya diambil maka darah akan menjadi kental, sehingga distribusi darah ke seluruh tubuh akan terganggu.

Kondisi inilah yang sangat berpengaruh bagi ginjal, karena ginjal akan susah untuk menyaring racun dalam darah yang kental. Makanya banyak orang yang terkena gangguan ginjal jika kurang minum air putih.

Air putih memiliki banyak sekali manfaat, jika dikonsumsi secara tepat dalam arti tidak kurang dan juga tidak berlebihan. Manfaat air putih yang sudah jamak adalah menghilangkan dahaga, mencegah dehidrasi, dan menggantikan cairan dalam tubuh yang hilang lewat keringat, urine atau saat kita bernafas.

Selain itu air putih juga bisa berperan untuk detoksifikasi tubuh, karena banyak zat yang mudah larut dalam air, sehingga zat-zat pengganggu tersebut akan keluar dari tubuh dengan bantuan air melalui urine. Air putih juga berperan sebagai alat transportasi untuk membawa nutrisi dari sistem pencernaan ke beberapa bagian tubuh.

Secara psikologis air putih bisa membuat kita tenang, pada saat kita gugup, stres, atau terganggu, minumlah air putih secara perlahan-lahan akan dapat membuat kita tenang kembali. Meskipun belum dapat diketahui apa yang menyebabkan air putih bisa membuat kita tenang.

Jumlah air yang menurun dalam tubuh, akan membuat fungsi organ-organ tubuh kita juga akan menurun, dan lebih mudah terganggu oleh bakteri, dan virus. Rasa haus pada setiap orang merupakan mekanisme normal dalam mempertahankan asupan air dalam tubuh.

Asupan air yang dibutuhkan tubuh sebanyak 2-2,5 liter per hari, asupan ini sudah termasuk yang berasal dari makanan, minuman, hasil metabolisme makanan yang dikonsumsi dan metabolisme jaringan di dalam tubuh.

Jika berada diruang ber AC dianjurkan untuk mengkonsumsi air putih lebih banyak lagi, karena udara yang dingin akan membuat tubuh cepat dehidrasi. Selain itu meminum air putih juga bisa membuat kulit tidak cepat kering. Dan yang pasti air putih juga bisa mendorong energi agar kita tidak lemas.

Gelombang Kejut Hancurkan Batu Ginjal


PERUBAHAN gaya hidup dan pola makan diperkirakan menjadi pemicu utama meningkatnya kasus batu ginjal di Indonesia. Ada beberapa terapi untuk menghancurkan batu ginjal, satu di antaranya penggunaan gelombang kejut atau Extracorporeal Shock Wave Lithotripsy (ESWL).

Seperti halnya penyakit menahun lain, batu di ginjal sering tidak menimbulkan keluhan khas. Pegal atau linu di sekitar pinggang disertai berkemih kemerahan atau keluarnya batu atau butiran pasir bersama urin merupakan keluhan yang banyak dijumpai.

Meski belum ada data resmi, diperkirakan di Indonesia gangguan ini cenderung meningkat seiring dengan perubahan gaya hidup dan pola makan. Kenyataan ini diperparah oleh ketidaktahuan penderita. Maklum, keluhan ini sering tersamar atau dianggap pegal linu biasa akibat tarikan otot maupun penyempitan saraf tulang belakang. Padahal, nyeri pinggang akibat batu ginjal tidak berkaitan dengan gerakan tertentu, seperti mengangkat barang berat atau bekerja keras.

Dr. Bernard S. Tjandra, Sp.BU, dari RS Pluit Jakarta, menjelaskan keberadaan batu diketahui dari pencitraan melalui pemeriksaan ultrasonografi atau rontgen khusus untuk saluran kemih, yaitu intra venous pyelography (IVP). Dari pemeriksaan ini dapat diketahui lokasi, jumlah, ukuran batu, dan kondisi saluran kemih. Gambaran bendungan menandakan adanya ancaman gangguan fungsi ginjal, yang jika dibiarkan dapat menimbulkan kerusakan.

Tanpa Rawat Inap
Salah satu penentu derajat kerusakan ginjal adalah lamanya bendungan berlangsung. "Disarankan tidak menunda waktu untuk mengeluarkan batu tersebut. Satu hal yang perlu diperhatikan, jangan menganggap penyakit sudah sembuh jika keluhan nyeri atau pegal menghilang. Hal itu justru menandakan fungsi ginjal sudah buruk," ujarnya.

Saat ini ada berbagai penatalaksanaan untuk mengusir batu ginjal. Tindakan paling minimal adalah dengan alat pemecah batu dari luar atau Extracorporeal Shock Wave Lithotripsy (ESWL).

"ESWL merupakan prosedur memecahkan batu ginjal atau batu ureter dari luar tubuh menggunakan gelombang kejut. Batu akan menjadi pecahan halus yang dapat keluar bersama air seni. Terapi ini tidak merusak jaringan tubuh di sekitarnya, apalagi menimbulkan luka, sehingga pasien tak perlu rawat inap, cukup diberi obat penghilang rasa nyeri atau bius lokal," tuturnya.

Metode ini, ditegaskan Dr. Bernard, merupakan pilihan terbaik penatalaksanaan batu ginjal tanpa operasi. Cara lain yang konservatif memiliki keterbatasan karena hanya untuk batu saluran kemih yang berukuran lebih kecil dari 5 mm dan belum ada komplikasi. Selain itu, pasien juga dianjurkan minum banyak dan diberi obat pelancar kencing (diuretika).

ESWL generasi terbaru seperti yang ditawarkan RS Pluit, menggunakan teknologi Econith-3000 dari Madispec, memakai generator electro hydraulic (spark gap) yang memiliki akurasi tinggi. Lokalisasi batu dapat dilakukan dengan USG dan X-ray (fluoroscopy).

Selain itu, alat ini memiliki bar pressure tinggi dengan focal zone (area tembak) yang lebih luas, sehingga mampu menghancurkan batu berukuran di bawah 2 cm atau jauh lebih besar dibanding cara konservatif.

Tak Cukup Sekali
Dr. Ali Suyono Purwito, Sp.BU, menambahkan bahwa ESWL sempat menjadi pilihan favorit di beberapa negara, padahal dalam penggunaannya tetap ada takaran tertentu. Di antaranya ada batasan penyinaran atau penembakan dengan gelombang kejut dan tidak bisa dilakukan dalam rentang waktu yang pendek.

"Setidaknya dalam sekali tindakan hanya dibatasi 3.000 sampai 3.500 tembakan atau memakan waktu kurang lebih satu hingga 1,5 jam. Selain itu, diperlukan rentang waktu dua minggu bagi pasien untuk menerima terapi dengan ESWL kembali," ungkapnya.

Spesialis bedah umum dari RS Pluit ini menegaskan, meski tawaran ini memiliki tingkat efektifitas tinggi, akan tidak berarti jika batu ginjal sudah berukuran lebih dari 2 cm. Untuk kasus batu ginjal yang besar, tetap harus dilakukan operasi.

Pilihan pertama adalah percutaneus nephrolithotripsy (PCNL), yaitu membuat lubang kecil di pinggang dan batu dipecahkan lalu diambil melalui lubang tersebut. Pilihan kedua, operasi terbuka dengan luka juga lebih besar. Keduanya memerlukan pembiusan dan dilakukan di kamar operasi. Pasien juga harus dirawat selama beberapa waktu.

Meski tidak ada batasan terapi dengan ESWL, untuk sekali tindakan diperlukan biaya sekitar 4,5 juta. Parahnya, terapi penghancur batu ginjal ini biasanya tidak cukup sekali. Tawaran ini tentu lumayan mahal. Apalagi, meski telah dilakukan penembakan dengan gelombang kejut, risiko batu ginjal muncul lagi tetap saja ada.

"Selanjutnya memang sangat tergantung masing-masing individu, terutama menyangkut gaya hidup dan pola makan. Perlu kesadaran sejak dini untuk memenuhi konsumsi air setidaknya 8 gelas sehari," kata Dr. Ali Suyono Purwito, Sp.BU. Jadi, bila ingin terhindar dari gangguan batu ginjal, pilihlah gaya hidup dan pola makan sehat seimbang.

Pria Lebih Berisiko
Tidak tahu apa penyebab pastinya, kebiasaan makan dan gaya hidup pria cenderung lebih tidak sehat daripada wanita. Fakta itu mendorong risiko batu ginjal pada pria jauh lebih tinggi. Mengonsumsi makanan tinggi purin (hati, usus, otak, dan udang) dalam jumlah berlebih dapat mengakibatkan tingginya kadar asam urat dalam urin. Begitu pula jika kita mengonsumsi makanan kaya kalsium dan oksalat secara berlebihan.

Dalam kaitannya dengan komponen makanan, dikenal ada dua jenis batu ginjal, yaitu berkalsium dan nonkalsium. Batu yang mengandung kalsium terdapat tiga jenis, yaitu kalsium oksalat, kalsium oksalat dan urat, serta batu kalsium fosfat. Yang termasuk batu nonkalsium adalah asam urat, struvit, dan batu sistin.

Berdasarkan berbagai hasil penelitian medis, diketahui bahwa pasien batu ginjal terbanyak adalah penderita batu ginjal kalsium (70-76 persen). Laki-laki lebih banyak daripada wanita, dengan perbandingan 2-3:1. Makanan kaya kalsium, oksalat, protein hewani, purin, dan garam perlu dikurangi. Sebaliknya, konsumsi air putih mesti diperbanyak.

Guna mencegah terbentuknya batu ginjal biasakan:
- Membatasi asupan kalsium, terutama makanan kaya kalsium seperti ikan salmon, sarden, keju, susu, es krim, kol, serta lobak. Dianjurkan membatasi asupan makanan seperti tepung kentang yang dicampur susu, sup memakai krim, dan makanan yang diolah dengan susu, keju, atau cokelat (kakao).
- Membatasi oksalat. Oksalat dalam air kemih yang terbanyak berasal dari dalam tubuh (endogen), makanan, serta dari hasil metabolisme vitamin C. Dari makanan porsinya hanya 10 persen, tetapi angka ini sudah cukup menuntut kewaspadaan kita untuk tidak asal santap makanan kaya oksalat. Makanan tinggi oksalat misalnya teh, bayam, cokelat, atau kacang-kacangan.
- Mengurangi konsumsi protein hewani.
- Membatasi asupan garam, terutama bagi penderita batu kalsium dan urat. Jangan mengonsumsi garam lebih dari 6 gram per hari.
- Minumlah banyak air putih. Makin kurang minum air putih, makin kurang pula air kemih yang terbentuk. Jumlah yang dianjurkan adalah yang dapat menghasilkan minimal 2 liter air per 24 jam. Untuk ini diperlukan sedikitnya 2-3 liter per hari dan terbagi rata selama sehari. Sekitar 35 persen penderita batu ginjal minum air kurang dari 1 liter per hari. Semua jenis minuman pada dasarnya diperbolehkan kecuali susu, teh, dan yang dapat menyebabkan ekskresi oksalat tinggi. Yang paling bagus tentu air putih. GHS/Kompas

Hidup Mandiri dengan Ginjal Transplantasi

UMUMNYA seseorang dapat hidup normal dengan hanya satu ginjal, bahkan tidak jauh berbeda dengan dua ginjal. Namun, bila kedua ginjal tidak berfungsi normal, maka seseorang perlu mendapatkan suatu Terapi Pengganti Ginjal (TPG).

TPG ini dapat dilakukan baik bersifat sementara waktu maupun terus-menerus. TPG terdiri atas tiga, yaitu hemodialisis (cuci darah), peritoneal dialisis (cuci rongga perut) dan transplantasi ginjal (cangkok ginjal).

Prinsip dasar dari hemodialisis adalah dengan membersihkan darah dengan menggunakan ginjal buatan. Sedangkan peritoneal dialisis menggunakan selaput rongga perut (peritoneum) sebagai saringan antara darah dan cairan dianial.

Berbicara mengenai transplantasi ginjal (TG), DR Tunggul D Situmorang SpPD, K-GH, Direktur Ketua RS PGI Cikini, mengungkapkan bahwa TG adalah pengobatan paripurna pada pasien gagal ginjal terminal (GGT).

"Dimaksudkan gagal ginjal terminal atau gagal ginjal tahap akhir bila fungsi ginjal sudah sangat terganggu dan hanya tinggal sekitar 5-15 persen serta tidak mungkin lagi diperbaiki dengan pengobatan konservatif berupa diet maupun obat-obatan," jelas Dr Tunggul saat acara seminar awam yang diadakan oleh IKCC (Indonesia Kidney Care Club) di RS PGI Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (31/5/2008).

Pada kondisi tersebut, ginjal sudah mengecil dan padat. Karena itu, pasien membutuhkan pengobatan baik berupa dialisis atau menggantikan ginjal (hemodialisis). Sayangnya, tindakan dialisis tidak mungkin menggantikan seluruh fungsi ginjal. Karena itu, transplantasi ginjal merupakan pilihan paling ideal dan tepat.

"Transplantasi ginjal sekarang ini sudah banyak diterapkan. Adapun proses transplantasi yang berhasil pertama kali diumumkan pada Desember 1954 yang dilakukan oleh Dr Joseph E Murray, di Boston. Ginjal berasal dari saudara kembarnya, dan dia menerima penghargaan Nobel untuk itu," papar pria tinggi besar ini.

Pada pasien dengan kasus gagal ginjal, lanjut Dr Tunggul, maka transplantasi ginjal dapat memberi harapan hidup lebih lama daripada dialisis. Sehingga, risiko meninggal lebih rendah. Hanya saja, prosedur ini diharapkan hanya sekali dilakukan. Jika gagal, maka diharapkan bisa dialisis kembali.

"Rejeksi (penolakan) bisa terjadi segera di meja operasi. Bila rejeksi akut tersebut terjadi sesudah beberapa hari atau tahun, maka dialisis dapat dilanjutkan kembali. Karena itu, untuk mencegah penolakan maka harus tetap mengonsumsi obat-obatan," sarannya.

Transplantasi ginjal yang akan dilakukan, sambungnya, dapat secara cadaveric yaitu dari seseorang yang telah meninggal atau dari donor yang masih hidup.

"Biasanya proses transplantasi di Indonesia banyak dilakukan dari orang yang masih hidup. Umumnya, donor hidup mempunyai hubungan darah langsung dengan resipien yaitu anggota keluarga seperti ayah, ibu dan anak. Dapat pula adanya hubungan emosi seperti istri atau suami," terang dosen Fakultas Kedokteran UKI ini.

Ada beberapa keuntungan untuk transplantasi dari donor yang masih hidup, termasuk kecocokan lebih bagus, donor dapat dites secara menyeluruh sebelum transplantasi dan ginjal tersebut cenderung memiliki jangka hidup yang lebih panjang.

"Syarat utama untuk menjadi pendonor ginjal ialah umur pendonor tidak boleh kurang dari 18 tahun atau lebih dari 65 tahun. Selain itu, pendonor harus sehat jasamani dan dinyatakan hidup normal walau hanya dengan satu ginjal sesudah dia donasikan salah satu ginjalnya," jelas salah satu tim transplantasi ginjal di RS PGI Cikini itu.

Sementara syarat untuk orang yang mendonor, ialah mencari dan mengobati seluruh kemingkinan sumber infeksi misalnya gigi atau THT. Endoskopi saluran cerna atas rutin dilakukan untuk mencari sumber yang potensial akan berdarah baik karena penyakitnya maupun pasca transplantasi karena obat-obatan.

Karena itu, masih menurut Dr Tunggul, monitoring fungsi ginjal pada pasca transplantasi yang berhasil (excellent graft function) dilakukan secara berkala setiap pekan dalam satu bulan pertama, tiap dua pekan dalam tiga bulan pertama, dan setiap dua sampai tiga bulan dalam satu tahun dan setiap empat sampai enam bulan sesudah satu tahun. (jri)

Transplantasi Atas Gagal Ginjal

SAAT fungsi ginjal hanya tinggal 5-15 persen, zat sisa yang tidak bermanfaat dikhawatirkan akan meracuni tubuh. Pasien gagal ginjal tahap akhir dapat bertahan dengan transplantasi.

Salah satu kriteria kemajuan suatu ilmu adalah apabila telah mencapai tahap transplantasi. Bila dulu transplantasi masih dianggap mitos, kini semuanya realita. Kesuksesan transplantasi ginjal pertama yang dilakukan oleh Joseph Murray di Boston USA pada 23 Desember 1954 membawanya meraih nobel untuk itu.

Di Indonesia, transplantasi ginjal baru dilakukan pada 1977 di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) dan Rumah Sakit PGI Cikini Jakarta atas prakarsa (alm) Prof Dr RP Sidabutar. "Walaupun sudah 31 tahun, perkembangannya cukup memprihatinkan melihat jumlah transplantasi ginjal di seluruh Indonesia hingga kini belum mencapai angka lima ratus dari 10 rumah sakit yang pernah melakukan transplantasi ginjal," komentar Direktur RS PGI Cikini, Dr Tunggul D Situmorang SpPD-KGH.

Kendala utamanya adalah keterbatasan pendonor ginjal yang rela menyumbangkan ginjalnya. Di Indonesia, sumber donor ginjal hanya berasal dari orang hidup (living donor). Sedangkan, di negara Barat mayoritas dari donor jenazah (cadaveric donor).

Transplantasi atau cangkok ginjal merupakan pengobatan paripurna bagi pasien gagal ginjal tahap akhir alias gagal ginjal terminal (GGT). Pada tahap ini, fungsi ginjal sudah sangat terganggu dan hanya tinggal 5-15 persen. Zat sisa yang tidak bermanfaat bagi tubuh tidak dapat dikeluarkan dan meracuni tubuh. Ginjal kian mengecil dan padat. Tidak ada obat yang bisa mengembalikannya ke semula.

"Kerusakan yang terjadi sudah bersifat menetap dan irreversible, tidak mungkin diperbaiki dengan pengobatan konservatif berupa diet maupun obat-obatan," jelasnya.

Untukmenggantikanfungsi ginjal yang rusak, pasien harus melakukan terapi pengganti ginjal (TPG) melalui transplantasi atau menjalani "cuci darah" (dialisis). Proses dialisis bisa dilakukan melalui dua cara, yakni dengan mesin (hemodialisis/ HD) atau melalui perut (peritoneal dialysis/CAPD).

Sayangnya, tindakan dialisis tidak mungkin menggantikan seluruh fungsi ginjal. Contohnya pembentukan sel darah dan metabolisme tulang yang hanya dapat dilakukan oleh ginjal sehat. "Transplantasi ginjal merupakan pilihan paling ideal dan tepat," tegas pengajar di FK UKI Jakarta itu.

Transplantasi dilakukan dengan memindahkan satu ginjal sehat dari donor melalui prosedur bedah selama 3-6 jam. Ginjal "baru"ditempatkan di rongga perut bagian bawah agar terlindung oleh tulang panggul. Selanjutnya, pembuluh arteri dan vena dari ginjal baru dihubungkan ke arteri dan vena tubuh, sehingga darah dapat dialirkan ke ginjal sehat untuk disaring. Saluran kemih dari ginjal baru juga dihubungkan ke kandung kemih agar urine dapat dialirkan keluar.

Pascatransplantasi, langkah selanjutnya adalah menilai apakah ginjal baru tersebut dapat bekerja sebagai penyaring darah layaknya ginjal sehat sehingga tidak lagi memerlukan dialisis. Namun, mengingat ginjal baru ini bukan berasal dari tubuh pasien sendiri, maka ada kemungkinan terjadi reaksi tubuh untuk menolak "benda asing" tersebut.
(sindo//tty)