Tampilkan postingan dengan label Diabetes. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Diabetes. Tampilkan semua postingan

Jalan Kaki 30 Menit Untuk Cegah Diabetes

Jalan kaki sungguh memberikan khasiat yang beragam. Mulai dari kebugaran, meningkatkan stamina, mencegah osteoporosis. Jalan kaki juga ternyata juga bisa mencegah diabetes.

Siapa yang tidak mengenal penyakit diabetes? Penyakit ini bisa menyerang siapa saja baik laki-laki ataupun perempuan dan tidak memandang usia penderita.

Hidup dengan diabetes sangat tidak nyaman. Selain bisa menyebabkan komplikasi, penderita diabetes juga harus tergantung pada obat dan menjalani diet seumur hidupnya.

Nah, salah satu cara yang mudah untuk mencegah penyakit ini adalah dengan berjalan kaki. Aktivitas fisik yang termasuk ringan hingga sedang dan aktivitas fisik yang lebih intensif, bisa mengurangi risiko terkena diabetes.

Seperti dilansir dari diabetesvic.org.au, menurunkan kadar gula darah dengan mengurangi produksi glukosa dari hati pada orang yang gemuk. Meningkatkan pengaturan rata-rata glukosa dalam sel dan sensitivitas glukosa, meningkatkan sensitivitas insulin hingga 12-24 jam setelah melakukan aktifitas fisik, dan meningkatkan high-density liporpotein (HDL-kolesterol baik) dalam darah.

Study di Australia mengindikasikan bahwa partisipan yang berjalan kaki antara 85 menit-3 jam per minggu, bisa mengurangi risiko terkena diabetes hingga 31%. Intensitas berjalan yang rutin (5 hari per minggu) setidaknya selama 3 jam per minggu bisa mengurangi risiko terkena diabetes pada remaja 31-42%.

Penelitian lain juga menunjukkan bahwa wanita yang aktif melakukan aktivitas fisik seperti jalan kaki bisa mengurangi risiko terkena diabetes dibandingkan dengan wanita yang tidak melakukan aktivitas fisik sama sekali.

Berjalan kaki juga dihubungkan dengan penurunan berat badan yang bisa mengurangi risiko terkena diabetes. Remaja yang dikategorikan overweight atau tidak aktif melakukan aktivitas fisik memiliki 3 kali kemungkinan lebih besar terkena diabetes dibandingkan remaja yang memiliki berat badan normal.

Dengan berjalan kaki selama 30 menit dapat meningkatkan kontrol glukosa, yang bisa membantu otot menyerap gula darah dan ini mencegah penyumbatan aliran darah. Efek ini bisa bertahan selama berjam-jam ataupun beberapa hari, tapi tidak permanen sehingga diperlukan jalan kaki yang teratur untuk mengontrol gula darah.

Kesehatan cardiovascular atau jantung yang lebih baik, karena orang dengan diabetes akan meningkatkan risiko penyakit jantung, jadi dengan berjalan kaki bisa mengurangi terkena penyakit jantung juga.

Untuk awalnya, mulailah dengan perlahan, berjalan selama 5-10 menit pada hari pertama masih bisa diterima, yang terpenting adalah tidak mendapatkan luka atau sakit pada tubuh anda.

Tambahkan 5-10 menit per minggu, lalu tingkatkan lagi hingga mencapai tujuan selama 45 menit sampai 1 jam, 5 sampai 7 hari seminggu, karena itu adalah waktu yang ideal untuk pemeliharaan glukosa darah. Namun manfaat kesehatan mulai bertambah saat 30 menit per hari.

Hal yang paling penting dalam jalan kaki adalah menggunakan sepatu yang nyaman untuk kaki anda sehingga tidak menimbulkan cedera atau luka, sebaiknya gunakan walking shoes dan jangan lupa menggunakan kaus kaki.

Mewaspadai Risiko Kehamilan Pengidap Diabetes

WANITA hamil yang mengidap diabetes menghadapi risiko bayi terlahir dalam kondisi cacat atau menderita kelainan. Kontrol kadar gula darah adalah kunci utama menjaga kehamilan tetap sehat dan aman.

Secara umum, dikenal dua tipe diabetes mellitus (DM). DM tipe 1 biasanya terjadi sejak kanak-kanak dan akan tergantung asupan insulin seumur hidup. DM tipe 2 merupakan bentuk paling umum dan banyak dialami orang dewasa.

Adapun diabetes pada kehamilan dibedakan dua kategori, yaitu wanita yang sudah terkena diabetes sejak sebelum hamil maupun diabetes yang disebabkan kehamilan (diabetes gestasional). Ketika hamil, gula darah memang cenderung meningkat, tapi umumnya akan kembali normal setelah melahirkan.

Sebuah studi yang dilakukan peneliti asal Amerika dan Israel menyimpulkan bahwa wanita dengan diabetes gestasional berisiko lebih tinggi terkena kanker pankreas. Hal ini diduga terkait pelepasan sejumlah hormon tertentu dan peningkatan bobot badan selama kehamilan. Insulin sebagai pengatur kadar gula darah juga diproduksi di pankreas.

Dalam studi tersebut, tim peneliti menganalisis arsip kesehatan dari 40.000 wanita yang melahirkan dalam kurun waktu 1964-1976 di Yerusalem, Israel. Hasilnya, dari 410 wanita yang terdiagnosis diabetes gestasional, lima di antaranya menderita kanker pankreas.

Kepala peneliti dari Sekolah Kedokteran Universitas New York, Mary Perrin, mengemukakan, hasil temuan tersebut masih perlu dikembangkan lagi di kemudian hari. Namun, satu hal yang pasti, angka kasus diabetes gestasional terus meningkat sejalan naiknya epidemi obesitas alias kegemukan.

"Hal terpenting yang harus disadari adalah bahwa diabetes gestasional bisa saja menjadi pertanda awal risiko gangguan kesehatan lainnya seperti kanker pankreas," katanya.

Sementara itu, Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (CDC) Amerika, pekan ini melansir studi terbaru yang melaporkan bahwa wanita hamil yang menyandang diabetes sejak sebelum hamil (pre-gestasional diabetes) berisiko 3-4 kali lebih tinggi memiliki bayi yang terlahir dengan kelainan atau kecacatan.

Studi yang dipublikasikan dalam American Journal of Obstetrics and Gynecology tersebut merupakan hasil penelitian terhadap data kesehatan dari 13.000 kasus kelahiran cacat di 10 negara bagian Amerika dalam kurun waktu 1997-2003. Sebagai pembanding adalah 5.000 data kelahiran sehat yang dipilih secara acak.

Hasilnya, sebanyak 93 persen kelahiran cacat memang tidak terkait diabetes. Namun, sekitar 2 persen bayi yang terlahir dengan satu kecacatan ternyata berasal dari wanita yang menyandang diabetes sejak sebelum hamil. Demikian halnya dengan 5 persen bayi yang lahir dengan lebih dari satu kecacatan. Sementara pada kelahiran sehat, persentase bumil dengan diabetes jauh lebih rendah.

Dalam studi tersebut, peneliti menganalisis lebih dari 40 tipe kecacatan pada bayi baru lahir, seperti kelainan bentuk jantung, tulang belakang, ginjal, hingga masalah pencernaan.

"Diabetes tidak pernah pandang bulu, termasuk dalam kaitannya dengan kelahiran cacat," kata kepala tim peneliti, Dr Adolfo Correa.

Saat ini, kasus kelahiran cacat dialami sekitar 1 dari 33 kelahiran di Amerika, dengan angka kematian sekitar 20 persen.
Sayangnya, penyebabnya secara jelas belum diketahui. Namun, faktor risiko seperti obesitas, konsumsi alkohol, merokok, dan infeksi disinyalir menjadi pemicunya.
(sindo//tty)

Rekam Profil untuk Diabetesi

Pemeriksaan gula darah terbatas pada saat pelaksanaan tes. Pemeriksaan HbA1c akan menampilkan profil kadar gula darah selama tiga bulan.

Salah seorang ibu rumah tangga, Tri (40), tampak bersemangat menyimak penjelasan dokter dalam seminar diabetes mellitus (DM) yang digelar di Botani Square Bogor, Sabtu lalu. Setiap tips dan anjuran pembicara dicatatnya dengan saksama.

"Saya sebetulnya enggak kena diabet, tapi tante, om, dan kakak dari orangtua saya semua kena diabet," ujar Tri saat berbincang dengan SINDO.

Sadar bahwa dalam keluarganya ada keturunan DM, ibu dua anak itu pun mawas diri dengan rajin mengontrol kadar gula darahnya. "Sejauh ini sih masih normal. Sepupu saya malah ada yang kena DM, lalu komplikasi ke ginjal dan mata, hingga jadi buta. Akhirnya dia meninggal juga," kenangnya.

Diabetes mellitus merupakan penyakit menahun dan tidak bisa disembuhkan. Namun, penyandang diabetes atau biasa disebut diabetesi tetap dapat hidup berkualitas asal dapat mengendalikan kadar gula darah senantiasa mendekati normal.

Pasalnya, jika tak terkendali, dapat muncul komplikasi seperti penyakit jantung koroner, stroke, retinopati diabetika atau komplikasi pada mata, ginjal, gangguan saraf, hingga disfungsi ereksi.

Untuk memantau stabilitas gula darah, diabetesi disarankan memeriksa kadar gula darah secara rutin. Saat ini juga tersedia alat cek kadar gula praktis yang bisa digunakan sendiri di rumah.

Penggunaannya mudah, seperti memakai handphone. Tinggal tekan tombol sehingga dapat melakukan kontrol dengan teratur. Coblos tepi jari dengan ujung alat, lalu tanpa rasa nyeri sampel darah disapukan ke strip reagen. Selanjutnya, masukkan strip meter gula darah, dan hasilnya dapat dibaca dalam hitungan 5 detik di layar monitor.

Menurut staf dokter penyakit dalam RSPAD Gatot Subroto Jakarta, Dr dr Aris Wibudi SpPD, alat tersebut bisa saja dipakai untuk pemeriksaan glukosa darah mandiri (PGDM).

Namun, metode ini tidak bisa dijadikan patokan pemeriksaan standar. Pasalnya, hasil pemeriksaan kadar darah kapiler di jari biasanya cenderung lebih tinggi dibandingkan pemeriksaan darah vena seperti yang biasa dilakukan di laboratorium.

"Alat tersebut boleh saja digunakan untuk memantau kadar gula darah di rumah. Namun, sebaiknya untuk memastikan di-cross check juga dengan pemeriksaan di laboratorium," ujar Aris.

Pemeriksaan standar gula darah sebaiknya dilakukan berkala, meliputi kadar gula darah puasa dan kadar gula dua jam setelah makan. Sebelum diambil sampel darahnya, pasien diminta berpuasa untuk tidak merokok, makan dan minum selain air putih selama 12 jam. Pasca diambil darah, dilanjutkan makan biasa sekitar 300 kalori. Dua jam setelah selesai makan, dilakukan pengambilan sampel darah kedua kalinya.

"Seseorang dikatakan diabetes bila kadar gula darahnya lebih dari 126 mg/dl dalam kondisi berpuasa, dan lebih dari 200 mg/dl setelah dua jam makan," kata Aris.

Akan tetapi, periksa glukosa darah saja ternyata tidak cukup. Pasalnya, pemeriksaan gula darah hanya mencerminkan kadar gula darah pada saat itu, tapi tidak menggambarkan pengendalian diabetes jangka panjang. Dianjurkan melakukan pemeriksaan HbA1c sebagai penunjang.

HbA1c merupakan zat yang terbentuk dari reaksi antara glukosa (gula) dengan hemoglobin, bagian sel darah merah yang bertugas mengangkut oksigen ke seluruh tubuh.

Zat itu akan tersimpan dan bertahan dalam sel darah merah selama tiga bulan. "Jadi, pemeriksaan HbA1c merupakan semacam rekaman profil kadar gula darah diabetesi selama tiga bulan," sebut Dra Indriyanti Rafi Sukmawati Apt MSi dari Laboratorium Klinik Prodia.

Nilai HbA1c kurang dari 6,5% menunjukkan kendali diabetes yang baik. Jika hasil menunjukkan nilai tinggi yaitu lebih dari 8%, diabetesi harus waspada bahwa risiko komplikasi akan meningkat sehingga harus diambil langkah pencegahan terbaik. (sindo//jri)

Biasakan Pola Hidup Sehat untuk Diabetesi

Menurut survei Badan Kesehatan Dunia (WHO), Indonesia menduduki peringkat keempat terbesar jumlah penyandang diabetes. Jumlah itu mencapai 8,6% dari total penduduk dan diperkirakan akan terus bertambah bila tidak dilakukan perubahan gaya hidup.

Beberapa gejala yang perlu diwaspadai yaitu sering kencing, sering haus, sering lapar, dan beberapa gejala tidak spesifik seperti badan lemah, kesemutan, penglihatan kabur, gatal, disfungsi ereksi pada pria atau gatal-gatal di sekitar kemaluan pada wanita.

Skrining penting dilakukan terutama bagi mereka yang berisiko tinggi seperti riwayat keluarga, berat badan berlebih, kurang aktivitas fisik, diet tidak sehat, hipertensi, dislipidemia atau kadar kolesterol abnormal.

"Kenali tanda-tanda awal diabetes, jangan menipu diri sendiri," kata Sony, seorang diabetesi.

Pria yang terkena DM sejak 1990 itu mengaku, awalnya tidak ada keluhan apa pun, termasuk saat terdeteksi DM dirinya merasa sehat-sehat saja. Dia mengaku memiliki hobi makan. Mulai fast food dan konsumsi minuman bersoda tak terbatas.

Hobi makan juga sempat dialami Koentjoro (61). Tiga belas tahun lalu, dia mengalami gejala sering lapar sehingga sering makan dalam jumlah banyak.

Juga sering haus dan minum sehingga kerap terbangun untuk kencing di malam hari. Hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan gula darah puasa 201 mg/dl dan gula darah dua jam setelah makan 364 mg/dl. Artinya, pria kelahiran Blitar ini positif DM.

"Sungguh, saya tidak siap menghadapi musibah itu. Yang muncul kemudian adalah ketakutan, resah gelisah, stres. Sambil berobat ke dokter, saya berusaha menutupi penyakit itu dari orang lain," ujarnya.

Karena tidak paham betul tentang DM, ketika dokter menyatakan kadar gula darahnya baik, dia langsung merasa sembuh dan berperilaku seperti orang yang tidak terkena DM. Akibatnya, bertahun-tahun kadar gula darahnya berfluktuasi naik-turun.

Kini Koentjoro kian tergugah untuk mencari informasi tentang pengendalian diabetes. Bahkan, bersama Persatuan Diabetes Indonesia (PERSADIA) RS Marzuki Mahdi Bogor, dia rajin mengampanyekan empat pilar penatalaksanaan diabetes, yakni edukasi, mengatur pola makan, olahraga, dan penggunaan obat secara teratur. (sindo//jri)

Sinar Matahari dan Diabetes Dapat Menyebabkan Katarak

KATARAK merupakan gangguan pada lensa mata yang membuat penglihatan menjadi kabur. Umumnya, katarak menyerang orang lanjut usia. Namun, tidak tertutup kemungkinan bahwa katarak juga menyerang orang muda dan anak-anak. Katarak dapat disebabkan oleh terlalu lamanya orang memandang langsung sinar matahari dan penyakit diabetes yang menahun. Katarak, tidak menular dan bisa diatasi dengan operasi.

Katarak adalah suatu perubahan lensa mata yang sebelumnya jernih dan tembus cahaya menjadi keruh. Katarak sendiri dapat menyebabkan si penderita tidak bisa melihat dengan jelas karena lensa mata yang keruh menghalangi cahaya mencapai retina. Penglihatan menjadi kabur. Jumlah dan kekeruhan pada setiap lensa mata bervariasi. Biasanya, penderita katarak tidak sadar telah mengalami gangguan pada mata. Katarak terjadi secara perlahan. Katarak tidak menular dari satu mata ke mata yang lain. Namun, katarak dapat terjadi pada kedua mata pada saat bersamaan.

Menurut dr Setiyo Budi Riyanto, Ophthalmologist dari Jakarta Eye Center, katarak merupakan suatu kelainan proses degeneratif yang terjadi pada lensa mata. Biasanya katarak terjadi pada usia lanjut, mulai dari usia 50-60 tahun. Lensa mata akan semakin keruh. Gangguan penglihatan dibagi menjadi dua bagian. Pertama, gangguan kacamata. Apakah terjadi mata plus, minus, silinder atau bahkan karena kacamata baca. Untuk mengetahui gangguan penglihatan ini, mata dikoreksi dengan kacamata atau lensa lensa kontak. Jika tidak, bisa dilakukan dengan lasik atau sinar laser. "Jika gangguan mata, gangguan bisa terjadi dari kerusakan anatomi bola mata, baik pada kornea, lensa mata, saraf penglihatan sampai retina," katanya.

Sebagian besar katarak terjadi pada usia lanjut. Namun, tidak tertutup kemungkinan katarak mata menyerang bayi karena sang ibu terinfeksi virus pada saat hamil muda. Penyebab lain seseorang terkena katarak adalah penyakit sistemik, seperti diabetes, penggunaan obat tertentu khususnya steroid, mata tanpa pelindung terkena sinar matahari (UV) dalam waktu yang cukup lama, trauma karena faktor lain yang belum diketahui. Penderita diabetes akan sangat mudah terkena katarak mata.

Masalah lain pada mata, misalnya kornea, retina dan saraf penglihatan, akan tetap mengganggu penglihatan meskipun telah dilakukan operasi katarak. Kecepatan gangguan katarak pada seseorang tidak dapat diprediksi. Karena katarak pada setiap individu berbeda. Bahkan perkembangannya pun berbeda antara satu mata dengan mata sebelahnya.

Secara umum, gejala gangguan katarak dapat diketahui dari penglihatan yang tidak jelas seperti dari penglihatan yang menghalangi objek, mata yang peka terhadap sinar matahari atau cahaya, dapat melihat ganda pada satu mata atau melihat secara ganda, memerlukan cahaya terang untuk dapat membaca, lensa mata berubah menjadi buram dan tidak bening, dan sering berganti kacamata tetapi tidak dapat penglihatan yang memuaskan dan jelas.

Katarak mata hanya dapat diatasi dengan melakukan operasi. Akan tetapi, jika gejala katarak mata tidak mengganggu, tindakan operasi tidak diperlukan. Cukup dengan mengganti kacamata saja. Tindakan operasi pada katarak mata dapat dilakukan apabila penglihatan hilang. Sampai saat ini belum ada obat untuk katarak. Obat-obatan semacam obat tetes mata, vitamin atau antioksidan hanya menghambat proses bertambah matangnya katarak. Selebihnya, tidak dapat mengurangi atau menghilangkan katarak. Menyembuhkan katarak tidak dapat dilakukan dengnan laser, melainkan harus melakukan pembedahan untuk mengeluarkan lensa yang keruh tersebut, kemudian diganti dengan lensa tanam buatan.

Dr Setiyo Budi juga menambahkan bahwa operasi katarak dapat dilakukan dengan mikroskop dan mesin fakoemulsifikasi yang memanfaatkan getaran ultrasonik untuk menghancurkan katarak. Laser dapat dilakukan setelah operasi katarak apabila kapsul lensa mengalami kekeruhan. Lebar sayatannya untuk luka operasi itu sangat kecil. Hanya sekitar 1,8-2,2 mm. Luka tersebut tidak perlu dijahit. Lensa katarak dapat diganti dengan lensa buatan, seperti okular atau lensa implant.
(Genie/Genie/tty)

Otoped, Sepeda untuk Mencegah Diabetes

ACAPKALI orangtua mengalami kesulitan mengajak buah hatinya bergerak. Nah, otoped menjadi salah satu alat bantu yang fun mengajak anak bergerak sambil bermain.

Dr Grace Tumbelaka SpKO mengatakan, anak-anak kini banyak dimanjakan dengan kegiatan berpangku tangan. Bila anak-anak tidak diajak bergerak sejak dini, mereka bisa terkena penyakit metabolik.

"Karena jarang melakukan aktivitas yang merangsang motorik kasarnya, anak-anak rentan terkena obisitas, hipertensi, diabetes mellitus, jantung koroner hingga hiperkolesterol," tutur dokter kelahiran Jakarta, 31 Januari 1969 ini.

Kelihatannya, saat bermain otoped (kids scooter), anak-anak tidak perlu mengeluarkan tenaga ekstra. Tetapi menurut dr Grace, bermain otoped tergolong latihan jasmani. "Untuk menggerakkan otoped, anak menggunakan otot besarnya, yakni tungkai kaki. Saat bermain otoped, anak melakukan secara kesinambungan dan berirama," beber lulusan Ilmu Kedokteran Olahraga Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia ini.

Anak-anak tidak serta merta menggerakkan otoped, langsung ditinggal begitu saja. Mereka melakukannya secara berkelanjutan. Saat otoped bergerak, mereka memberi daya dengan kakinya. Sesekali otoped berhenti dan kaki pun menahan. Begitu selanjutnya, terjadi secara berulang-ulang.

Keseimbangan dan Sosialisasi

Karena menggunakan tungkai kaki sebagai daya menjalankan otoped, tentu otot kaki terlatih kekuatannya. Manfaat lainnya, saat anak mengendalikan otopednya, dia juga membutuhkan keseimbangan. Sebab, tidak semua otoped memiliki rem dan otoped juga tidak mempunyai kayuh. Jadi, pada saat anak mulai menggerakkan atau menghentikannya, setidaknya dia mempunyai keseimbangnan yang baik. "Satu kaki untuk menumpu dan kaki lainnya menggenjot. Bila kaki satu sama lain dan tubuh tidak seimbang, bisa jadi anak terjatuh dan terluka, "urai dokter olahraga yang menangani atlet badminton di Pelatnas PBSI, Cipayung ini.

"Biasanya, saat anak bermain otoped, dia bersama teman-temannya. Sikap sosial pun bisa dikembangkan melalui bermain otoped," tambah dokter yang berpraktek di Klinik Slim Health, Mal Taman Anggrek, Jakarta Barat ini.

Atasi Cedera

Cedera bisa saja terjadi saat anak bermain otoped. Menurut istri dari Wisnu Carlo Kawilarang, ada dua jenis cedera, yakni cidera internal (kelelahan, koordinasi dan keseimbangan terganggu) dan cedera eksternal (tersandung saat melewati jalan yang tidak rata, anak menabrak atau tertabrak temannya).

Bila anak terjatuh dan luka, saran dr Grace, sebaiknya lukanya ditangani dengan memberi desinfektan pembunuh kuman. Untuk luka tertutup atau memar bisa dilakukan RICE (Rest, Ice, Compression, and Elevation).

"Istirahatkan bagian yang memar. Berikan kompres es, lalu tahan bagian tersebut dengan perban. Fungsinya, untuk menghambat inklamasi atau radang pembengkakan, kemerahan, panas, nyeri, dan fungsi tubuh terganggu karena terjadi pendarahan di daerah tersebut," terangnya. Hal terakhir yang dilakukan adalah mengangkat bagian tubuh yang memar lebih tinggi dari jantung.
(Mom& Kiddie//tty)

Sehat Berpuasa Meski Diabetes

MEMASUKI bulan Ramadan, undangan buka puasa bersama mulai berdatangan. Hidangan berbuka berderet-deret aneka macam yang sangat menggugah selera. Namun bagaimana bagi para penderita diabetes (kencing manis) dalam menghadapi puasa?

Berikut tipnya:
1. Harus disiplin dengan tidak mengonsumsi makanan yang manis-manis atau dalam jumlah terbatas.
2. Ukur kadar gula sebelum menjalani puasa agar kadar glukosa darah terkendali. (kadar glukosa darah dipertahankan kurang dari 110 mg/dl selama puasa dan 160 mg/dl setelah dua jam makan).
3. Penderita diabetes dengan komplikasi berat seperti gagal ginjal atau gagal jantung, sebaiknya tidak berpuasa karena dapat memperberat komplikasi.
4. Penderita yang mendapat suntikan insulin satu kali per hari dapat berpuasa, sedangkan pasien yang mendapatkan suntikan insulin dua kali sehari atau lebih dianjurkan untuk tidak berpuasa.
5. Perhatikan proses pengaturan jumlah kalori, jadwal minum obat, serta jenis-jenis makanan yang dikonsumsi secara benar dan tepat.
6. Sahurlah mendekati imsak, konsumsi makanan dalam jumlah normal seperti sarapan.
7. Buka puasa dengan secangkir teh hangat (gula satu sendok), hindari makanan bersantan dan gula.
8. Makan besar setelah shalat magrib, porsi dan jenis makanan bisa disamakan dengan jumlah makanan siang atau sedikit lebih banyak. Tapi jangan terlalu banyak karena akan mengganggu stabillitas kadar gula darah.
9. Dianjurkan makan makanan sumber protein rendah lemak, seperti ikan, ayam tanpa kulit, susu skim, tempe, tahu, dan kacang-kacangan.
10. Obat-obatan diabetes yang biasanya diminum pagi hari, diubah menjadi waktu berbuka puasa. Sedangkan dosis sore dipindahkan pada waktu makan sahur.
11. Bagi yang gemar olahraga, saat yang tepat adalah sesuai salat tarawih. Jenis olahraga pun sebaiknya pilih yang ringan saja.
12. Sering-seringlah memantau kadar glukosa darah.
(Realita/Genie/tty)

Minuman Buah Menyebabkan Diabetes

MINUMAN buah yang mengandung gula sebagai minuman kesehatan, ternyata meningkatkan risiko diabetes dan menambah berat badan.

"Masyarakat harus waspada bahwa minuman jenis ini bukanlah minuman sehat pengganti minuman ringan sehubungan dengan adanya risiko diabetes tipe 2," papar sang peneliti, Julie Palmer dan timnya di Boston University yang tertulis dalam laporan penelitiannya pada arsip medis internal seperti yang dilansir Reuters.

Dia menyebutkan, diabetes tipe 2 merupakan bentuk umum diabetes yang paling dekat dengan obesitas. Tubuh, terutama sel otot, sel lemak, dan sel hati kurang peka terhadap efek kerja hormon insulin. Alhasil, lebih banyak dibutuhkan hormon insulin agar glukosa dalam darah dapat masuk ke dalam sel-sel tubuh dan produksi gula oleh hati dapat terkendali.

Keadaan yang disebut resistensi insulin ini didasari pada faktor gen dan dipicu gaya hidup santai, kelebihan berat badan, dan peningkatan jumlah sel lemak terutama di daerah perut, penurunan aktivitas fisik, terutama dengan semakin bertambahnya usia. Pada mulanya, pankreas masih sanggup mengimbangkan keadaan tersebut dengan memproduksi lebih banyak insulin. Namun, semakin lama kemampuan pankreas kemudian berkurang.

"Tipe diabetes mellitus (DM) terbagi menjadi empat, dan di antara DM ini yang paling sering diderita adalah DM dengan tipe 2, dan 90 persen nya berumur di atas 35 tahun" ungkap Benny, dokter lulusan Jerman ini.

Hasil penelitian tentang minuman buah ini berasal dari hasil check up 44.000 wanita kulit hitam Amerika sepanjang tahun 1995 sampai dengan tahun 2005. Mereka yang mengakui dalam seharinya meminum 2 atau lebih soft drink (minuman ringan) mempunyai risiko 24% lebih besar terhadap diabetes tipe 2 dibandingkan mereka yang mengonsumsi lebih sedikit soft drink dalam sebulan.

Menurut peneliti tersebut, mereka yang mengonsumsi 2 atau lebih minuman buah mengandung gula (sweetened) dalam sehari, mempunyai risiko 31 persen lebih besar terkena diabetes tipe 2 dibandingkan yang lebih sedikit meminumnya dalam sebulan. Sedangkan diet soft drink, jus anggur, dan jus jeruk terhindar dari risiko diabetes tipe 2.

Alasannya, jus jeruk dan jus anggur walaupun mengandung gula,namun merupakan gula alami yang terdapat dalam buah tersebut. Artinya, minuman itu mempunyai efek metabolisme yang berbeda atau lebih sebagai asupan makanan.

Begitu pula dengan penelitian baru-baru ini yang melibatkan ribuan wanita kulit putih juga menghasilkan tingginya risiko mereka terhadap diabetes akibat mengonsumsi minuman buah dan soft drink.

Studi terakhir menemukan bahwa diet rendah lemak tidak akan mengurangi atau mengubah risiko diabetes. "Penyebab utamanya jelas kalori" sebut Dr Mark Feinglos dari Duke University Medical Center di Carolina Utara "Dan beberapa kandungan, seperti sirup jagung fruktosa tinggi menyebabkan selera makan menjadi berlebih," lanjutnya lagi.

Penelitian lain dalam jurnal yang sama menyebutkan, buah-buahan dan sayur-sayuran segar dapat menjauhi kita dari risiko diabetes tipe 2. Caranya dengan mencegah obesitas atau karena terdapatnya kandungan gizi pelindung termasuk antioksidan. "Jika Anda menjaga asupan kalori agar tetap rendah, Anda mungkin bebas makan apa pun. Hal itu terbukti dari pola diet rendah karbohidrat yaitu Anda mengonsumsi sedikit sekali kalori," ucap Mark.
(sindo//tty)